Masyarakat Berlari Untuk Hidup Sehat, Kota Belum Siap

Essay #08· firmansyarifuddin.id

Belakangan ini saya ikut mencoba beberapa gaya hidup sehat yang sedang naik daun. Mulai dari padel, olahraga yang beberapa tahun lalu mungkin masih terdengar asing bagi banyak orang, sampai mencoba trail run pada akhir September lalu. Ternyata menyenangkan juga. Ada sensasi berbeda ketika olahraga bukan lagi sekadar “membakar kalori”, tetapi berubah menjadi pengalaman sosial, rekreasi, bahkan sedikit petualangan.

Saya mulai memahami mengapa gaya hidup sehat semakin menarik bagi masyarakat urban. Orang tidak hanya ingin sehat; mereka ingin sehat dengan cara yang menyenangkan, punya komunitas, memberi pengalaman, dan kadang juga memberi sedikit kebanggaan personal.

Dan rupanya saya tidak sendirian.

Ketika Semua Orang Mulai Berlari

Coba lihat apa yang terjadi di Yogyakarta. Ketika tulisan ini dibuat pada Oktober 2026, laman LintasLari Jogja menampilkan 38 event lari dalam kalendernya. Angka itu tentu bukan sensus seluruh kegiatan lari di Yogyakarta dan sekitarnya, tetapi sebagai potret kecil, ia cukup menggambarkan betapa ramainya fenomena ini.

Dalam satu kota, pilihan lari sekarang begitu beragam: fun run, road run, trail run, charity run, race yang serius mengejar personal best, sampai event yang diikuti sekadar untuk mencari pengalaman baru bersama teman. Saya sendiri ikut menjadi bagian kecil dari keramaian itu ketika mencoba trail run pada akhir September lalu.

Dulu, lari mungkin lebih mudah diasosiasikan dengan atlet, orang yang sedang menurunkan berat badan, atau mereka yang memang sejak awal gemar berolahraga. Sekarang ceritanya sedikit berbeda. Lari telah berubah menjadi aktivitas sosial sekaligus bagian dari gaya hidup urban. Orang datang bukan hanya karena ingin sehat, tetapi juga karena ingin bertemu teman, menikmati suasana, mendapat pengalaman, menguji diri, atau sekadar punya alasan untuk bangun pagi pada akhir pekan.

Kesehatan kemudian hadir dalam bentuk yang jauh lebih menarik dibandingkan pesan normatif seperti “ayo berolahraga tiga kali seminggu”. Ia hadir melalui komunitas, race pack, jersey, medali, foto di garis finis, unggahan di Strava, dan obrolan tentang race berikutnya.

Lari akhirnya bukan lagi hanya soal lari. Ia menjadi bagian dari cara masyarakat urban menikmati hidup. Dan fenomena ini rasanya tidak berhenti di dunia lari. Padel tumbuh, gym semakin beragam, sepeda, hiking, yoga, pilates, hingga trail run mendapat komunitasnya masing-masing. Kesehatan datang dengan wajah yang berbeda dari kampanye kesehatan yang selama ini kita kenal: bukan sekadar nasihat, melainkan pengalaman dan lifestyle.

Menurut Survei Kesehatan Indonesia 2023, sebanyak 37,4 persen penduduk Indonesia usia 10 tahun ke atas masih tergolong kurang melakukan aktivitas fisik. Menariknya, salah satu alasan utama yang dilaporkan adalah keterbatasan waktu. Di tengah kondisi seperti itu, kenyataan bahwa semakin banyak orang rela bangun pukul lima pagi pada hari Minggu untuk mengikuti sebuah race menurut saya menunjukkan sesuatu yang menarik: ada perubahan budaya dalam cara sebagian masyarakat kota memandang kesehatan.

Hidup Sehat Menjadi Gaya Hidup

Perubahan itu bahkan bisa dilihat dari ruang yang tidak langsung berhubungan dengan olahraga. Kafe, misalnya, semakin banyak, semakin menarik, dan semakin pandai membaca perubahan konsumennya. Ketika memesan kopi, kita semakin sering mendapat pilihan kadar gula: normal, less sugar, bahkan tanpa gula. Di beberapa tempat tersedia pula pilihan susu atau pemanis alternatif.

Kelihatannya sederhana, tetapi pertanyaan semacam “gulanya normal atau less?” sebenarnya menunjukkan bahwa kesadaran terhadap apa yang masuk ke tubuh mulai menjadi bagian dari perilaku konsumsi sehari-hari. Orang mulai memperhatikan gula, kalori, kandungan protein, pilihan susu, atau sekadar mencoba mengurangi rasa manis.

Tentu tidak berarti semua makanan urban tiba-tiba menjadi sehat. Kopi less sugar tetap bisa ditemani croissant, donat, atau kentang goreng. Seusai lari tujuh kilometer pun saya masih bisa sangat serius memikirkan pisang goreng dan kopi. Manusia tetap manusia.

Namun ada perubahan penting yang patut diperhatikan: ekosistem mulai memberi pilihan. Kesadaran sehat tidak lagi hanya datang dari tenaga kesehatan, Puskesmas, atau poster promosi kesehatan. Pasar mulai membacanya. Industri makanan membacanya. Kafe membacanya. Developer membacanya. Industri olahraga tentu saja membacanya. Kesehatan pelan-pelan menjadi bagian dari bahasa keseharian masyarakat kota.

Dan menurut saya, itu perkembangan yang positif.

Dari Healthism sampai “Nudge”

Fenomena hidup sehat sebenarnya sudah lama menjadi perhatian para ilmuwan sosial dan perilaku. Pada 1980, Robert Crawford memperkenalkan istilah healthism untuk menggambarkan kecenderungan masyarakat modern yang semakin menempatkan kesehatan sebagai tanggung jawab individu. Tubuh harus dijaga, pola makan dikontrol, olahraga dilakukan, dan risiko penyakit sebisa mungkin dikelola oleh diri sendiri.

Lebih dari empat dekade kemudian, gagasan itu terasa sangat dekat dengan kehidupan masyarakat urban. Smartwatch menghitung langkah, aplikasi mencatat kalori, jam tidur dipantau, heart rate diperiksa, minuman dipesan less sugar, dan akhir pekan mulai diisi race. Kesehatan bukan lagi sekadar keadaan ketika seseorang tidak sakit. Ia menjadi aspirasi, gaya hidup, bahkan bagi sebagian orang bagian dari identitas. Tetapi ada satu masalah jika kita berhenti sampai di sini: kita bisa dengan mudah menganggap bahwa hidup sehat hanyalah soal kemauan.

Di sinilah pemikiran Richard Thaler menjadi menarik. Thaler, ekonom perilaku yang kemudian menerima Nobel Ekonomi, berangkat dari pengamatan sederhana: manusia ternyata tidak selalu mengambil keputusan secara rasional. Kita sering tahu apa yang baik, tetapi tetap memilih yang mudah, dekat, familiar, atau paling tersedia.

Kita tahu harus mengurangi gula, tetapi tetap mengambil minuman manis.

Kita tahu perlu berjalan kaki, tetapi memilih kendaraan karena lebih praktis.

Kita tahu harus aktif bergerak, tetapi lingkungan kita justru membuat duduk dan berkendara jauh lebih mudah.

Bersama Cass Sunstein, Thaler kemudian mempopulerkan gagasan Nudge.

Intinya sederhana: daripada terus-menerus menyuruh orang membuat keputusan yang baik, mengapa kita tidak merancang lingkungan agar pilihan yang baik menjadi lebih mudah dilakukan?

Tidak perlu melarang.

Tidak perlu memaksa.

Cukup mengubah cara pilihan tersedia. Itulah yang disebut choice architecture.

Contohnya sebenarnya sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari.

Ketika barista bertanya: “Normal sugar atau less sugar?”

kita sedang berhadapan dengan sebuah lingkungan pilihan. Tidak ada yang melarang kita memilih minuman manis. Tidak ada pula ceramah panjang tentang diabetes. Tetapi pilihan yang lebih sehat dibuat terlihat, tersedia, dan mudah dipilih.

Kita cukup menjawab:“Less sugar.”

Selesai.

Mungkin itu terdengar remeh. Tetapi justru di situlah kekuatan nudge.

Perubahan perilaku tidak selalu membutuhkan kampanye besar. Kadang cukup dengan membuat keputusan sehat menjadi sedikit lebih mudah daripada sebelumnya. Hal yang sama berlaku pada aktivitas fisik. Kalau tangga dibuat terlihat dan mudah diakses, orang lebih mungkin memilih tangga. Kalau trotoar nyaman dan tersambung, orang lebih mungkin berjalan. Kalau taman dekat dengan rumah, aktivitas fisik menjadi lebih mungkin terjadi. Kalau komunitas lari tumbuh dan event tersedia hampir setiap akhir pekan, olahraga terasa lebih menarik daripada sekadar kewajiban kesehatan. Dengan kata lain, perilaku sehat tidak berdiri sendiri. Ia lahir dari pertemuan antara niat individu dan lingkungan yang mendukungnya. Karena itu, slogan yang sering dipakai dalam promosi kesehatan menjadi sangat relevan: healthy choice should be the easy choice.

Healthy choice should be the easy choice.

Dalam beberapa bagian kehidupan urban, ekosistem seperti ini sebenarnya sudah mulai tumbuh. Ketika tersedia komunitas lari, olahraga menjadi kegiatan sosial. Ketika lapangan padel bermunculan, orang yang sebelumnya tidak tertarik olahraga menjadi penasaran untuk mencoba. Ketika kafe menyediakan pilihan rendah gula, konsumen tidak perlu bersusah payah mengurangi asupan manis.

Masalahnya, begitu kita keluar dari ruang-ruang komersial itu, ceritanya tidak selalu semudah itu.

Masyarakat Berubah Lebih Cepat daripada Kotanya

Beberapa minggu setelah saya mencoba trail run, muncul cerita viral dari sebuah event lari 5K di Surabaya. Seorang perempuan mengeluhkan stroller yang dibawanya tidak diperbolehkan masuk ke race sehingga ia akhirnya berlari sambil menggendong anak. Media sosial kemudian ramai memperdebatkan aturan panitia, keselamatan, dan penggunaan stroller dalam perlombaan.

Perdebatan itu sah-sah saja. Namun ketika membaca cerita tersebut, saya justru terpikir pertanyaan lain: jangan-jangan masyarakat kita sedang berubah lebih cepat daripada kota tempat mereka tinggal.

Keinginan hidup sehat tumbuh pesat. Event lari semakin ramai, komunitas bermunculan, orang rela bangun sebelum matahari terbit, membeli sepatu lari, mendaftar race, pergi ke gym, bermain padel, atau berkendara cukup jauh untuk menemukan jalur trail. Namun keinginan untuk bergerak itu belum selalu diikuti oleh lingkungan sehari-hari yang memudahkan orang bergerak. Kita masih sering menemukan kawasan yang nyaman untuk kendaraan, tetapi tidak terlalu nyaman untuk pejalan kaki. Trotoar tidak selalu tersambung, ruang teduh terbatas, penyeberangan tidak selalu aman, dan ruang terbuka tidak selalu dekat dengan tempat tinggal.

Akibatnya muncul ironi kecil kehidupan urban: kita kadang harus berkendara beberapa kilometer hanya untuk menemukan tempat yang nyaman untuk berjalan atau berlari beberapa kilometer. Di sinilah gaya hidup sehat mulai bersinggungan dengan persoalan yang lebih besar daripada motivasi individu.

Kota Juga Membentuk Perilaku

Dalam kesehatan masyarakat dikenal istilah built environment, yaitu lingkungan fisik yang kita bangun dan tempat kehidupan sehari-hari berlangsung: jalan, trotoar, taman, permukiman, transportasi, fasilitas publik, dan ruang terbuka.

Berbagai penelitian menunjukkan bahwa lingkungan seperti ini ikut memengaruhi aktivitas fisik. Peningkatan walkability, kualitas taman, fasilitas rekreasi, konektivitas jalan, serta infrastruktur berjalan kaki dan bersepeda cenderung mendukung masyarakat untuk bergerak lebih aktif.

Artinya, perilaku tidak hanya dibentuk oleh motivasi.

Kota pun sebenarnya ikut “mendidik” perilaku warganya.

Trotoar yang lebar, teduh, dan tersambung memberi pesan bahwa berjalan kaki adalah pilihan yang wajar. Jalur sepeda yang aman membuat bersepeda terasa masuk akal. Taman yang mudah dijangkau memberi alasan bagi orang untuk keluar rumah dan bergerak. Sebaliknya, lingkungan yang seluruh desainnya lebih ramah pada kendaraan bermotor secara tidak langsung mengirim pesan berbeda: lebih mudah naik kendaraan daripada berjalan.

Kita sering meminta masyarakat lebih aktif secara fisik. Namun mungkin kita terlalu jarang bertanya apakah lingkungan membuat aktivitas itu mudah dilakukan. Padahal lari 5K dalam sebuah event hanya berlangsung satu pagi.

Kesehatan masyarakat berlangsung setiap hari.

Dari Obsesi Rasa Aman ke Obsesi Hidup Sehat

Saya pernah menulis tentang perubahan masyarakat kota yang semakin tersegregasi. Salah satu pendorongnya adalah kebutuhan terhadap rasa aman. Kita membangun perumahan dengan pagar, portal, security, CCTV, dan lingkungan yang lebih tertutup. Orang dengan sumber daya lebih besar dapat membeli lingkungan yang dianggap lebih aman, nyaman, dan dapat diprediksi.

Sekarang saya melihat lapisan lain mulai muncul. Setelah obsesi terhadap rasa aman, masyarakat urban tampaknya mulai memiliki obsesi terhadap hidup sehat.

Dan keduanya sering bertemu.

Perumahan tidak lagi hanya menawarkan keamanan, tetapi juga jogging track, gym, kolam renang, atau ruang hijau. Developer memahami bahwa hidup sehat sekarang mempunyai nilai jual. Kafe menawarkan pilihan less sugar. Aplikasi memberi target langkah. Smartwatch memberi skor tidur. Race organizer menjual pengalaman berlari. Gym memberi ruang bergerak. Lapangan padel menawarkan olahraga sekaligus ruang sosial.

Pasar sangat cepat membaca keinginan kita untuk hidup sehat. Ada sisi yang sangat positif dari perubahan ini. Artinya, ekosistem perilaku sehat semakin berkembang. Namun ada satu persoalan yang perlu kita pikirkan: bagaimana jika sebagian besar ruang sehat itu hanya bisa kita akses dengan cara membelinya?

Ketika Ruang Sehat Harus Dibeli

Lapangan padel tersedia, tetapi berbayar. Gym tersedia, tetapi membutuhkan membership. Race tersedia, tetapi ada biaya registrasi. Smartwatch tersedia, tetapi tentu harus dibeli. Makanan dan minuman dengan berbagai alternatif sehat semakin banyak, tetapi sering kali hadir di ruang konsumsi tertentu.

Ketika ruang publik tidak cukup nyaman, kelompok yang mempunyai sumber daya pada akhirnya akan membeli alternatif. Mereka membeli keamanan melalui perumahan tertutup, ruang olahraga melalui gym, pengalaman berlari melalui race, ruang sosial melalui kafe, dan pengalaman udara terbuka melalui perjalanan ke gunung atau jalur trail.

Di sinilah fenomena gaya hidup sehat kembali bersinggungan dengan persoalan lama masyarakat urban: segregasi.

Dan pada titik tertentu, persoalannya bukan lagi sekadar lifestyle, melainkan equity.

Semua orang mungkin sama-sama ingin sehat, tetapi kesempatan untuk sehat tidak selalu sama. Seorang ibu yang ingin berjalan pagi bersama anak menggunakan stroller membutuhkan trotoar yang rata, cukup lebar, aman, dan tersambung. Lansia membutuhkan ruang berjalan yang tidak memaksanya berhadapan dengan lubang atau perbedaan ketinggian yang ekstrem. Pekerja dengan jam kerja panjang membutuhkan pilihan aktivitas yang cocok dengan keterbatasan waktunya. Keluarga di kawasan padat membutuhkan ruang terbuka yang dapat diakses tanpa harus pergi jauh.

Mereka bisa saja mempunyai niat yang sama untuk hidup sehat, tetapi opportunity to be healthy mereka berbeda. Itulah sebabnya menyediakan fasilitas belum selalu berarti menyelesaikan persoalan. Kita juga perlu bertanya siapa yang bisa mengaksesnya, berapa biaya yang harus dikeluarkan, dan siapa yang paling banyak memperoleh manfaat. Kalau satu-satunya cara mendapatkan lingkungan yang mendukung kesehatan adalah dengan membelinya, hidup sehat pelan-pelan dapat berubah dari hak menjadi privilege.

Healthy Choice Should Be the Easy Choice

Meski demikian, saya tidak ingin melihat tren gaya hidup sehat ini secara pesimistis. Justru menurut saya ada banyak hal yang patut dirayakan.

Masyarakat mulai ingin bergerak. Komunitas olahraga tumbuh. Lari menjadi menyenangkan. Orang semakin memperhatikan apa yang dimakan dan diminum. Pilihan rendah gula semakin biasa. Pasar semakin responsif terhadap konsumen yang ingin sehat. Teknologi membantu orang memahami tubuhnya sendiri. Artinya, setelah puluhan tahun promosi kesehatan sibuk mengatakan “ayo hidup sehat”, sebagian masyarakat tampaknya benar-benar mulai menjawab: baiklah, kita coba.

Itu sebuah kemajuan.

Tantangan berikutnya adalah memastikan semangat yang sama tidak hanya hidup di ruang komersial, tetapi juga hadir dalam kehidupan sehari-hari. Jika kafe mampu membuat less sugar menjadi pilihan yang mudah, mengapa kota tidak bisa membuat berjalan kaki menjadi pilihan yang mudah? Jika gym dapat menciptakan ruang aman untuk bergerak, mengapa lingkungan permukiman tidak? Jika smartwatch dapat mengingatkan kita mencapai 10.000 langkah, mengapa seribu langkah pertama justru masih sering terasa merepotkan?

Karena pada akhirnya, tujuan kesehatan masyarakat bukan membuat semua orang ikut marathon. Tidak semua orang perlu bermain padel, tidak semua orang harus membeli smartwatch, dan tidak semua orang menyukai lari. Tujuannya jauh lebih sederhana: membuat hidup aktif menjadi bagian yang biasa dari kehidupan sehari-hari.

Saya sendiri mungkin masih akan mencoba padel lagi. Mungkin juga akan ikut trail run berikutnya, siapa tahu tahun depan mencoba kelas yang lebih jauh, lengkap dengan headlamp. Dan setelahnya, mungkin tetap mencari kopi dengan pilihan yang sederhana: “less sugar saja.” Pengalaman kecil itu membuat saya semakin yakin bahwa sesuatu memang sedang berubah pada masyarakat kota. Kita mulai ingin hidup lebih sehat. Mungkin tantangan kesehatan masyarakat berikutnya bukan lagi sekadar menyadarkan masyarakat. Masyarakatnya sudah mulai bergerak.

Sekarang giliran kotanya

Masyarakatnya sudah mulai bergerak, dan pasar membaca perubahan itu dengan sangat cepat. Developer menjual jogging track dan ruang hijau, gym tumbuh, lapangan padel bermunculan, race organizer mengubah lari menjadi pengalaman sosial, dan kafe semakin mudah menawarkan pilihan less sugar atau no sugar. Swasta memahami bahwa hidup sehat sudah menjadi aspirasi baru masyarakat urban. Karena itu, pemerintah kota seharusnya tidak kalah lari. Tugasnya tidak selalu harus dimulai dari program yang rumit: bangun trotoar yang benar, perbanyak taman, sambungkan jalur pedestrian, buat jalur sepeda yang aman, sediakan koridor lari, dan pastikan ruang publik nyaman digunakan semua orang. Sederhana secara gagasan, tetapi dampaknya langsung terasa dalam kehidupan sehari-hari.

Beberapa kota sudah menunjukkan arah itu. Surabaya terus membenahi trotoar, taman, dan jalur sepeda untuk memperkuat kota yang lebih ramah pejalan kaki, sementara Singapura menjadikan active mobility sebagai bagian dari desain transportasi kota, dengan target jaringan jalur sepeda yang luas dan terhubung dengan permukiman, sekolah, pusat belanja, serta angkutan umum. Contoh-contoh ini menunjukkan bahwa pemerintah kota sebenarnya bisa lebih adaptif terhadap perubahan perilaku masyarakat. Ketika warganya semakin ingin berjalan, berlari, bersepeda, atau sekadar menikmati ruang luar dengan aman, tuntutannya bukan lagi sekadar kampanye kesehatan, melainkan desain kota yang memungkinkan semua itu terjadi.

Pada akhirnya, pemerintah kota tidak harus mengalahkan swasta dalam membuat gaya hidup sehat menjadi keren. Tetapi pemerintah harus memastikan bahwa kesempatan untuk hidup sehat tidak hanya tersedia bagi mereka yang mampu membelinya. Jangan sampai untuk sekadar bergerak dengan aman, warga harus selalu masuk stadion, membayar membership, mendaftar race, atau tinggal di kawasan tertentu. Masyarakatnya sudah berlari, pasarnya sudah berlari, swastanya bahkan sudah sprint. Sekarang jangan sampai pemerintah kotanya masih sibuk pemanasan.

Sumber Inspirasi Tulisan:

  • Crawford, R. (1980). Healthism and the Medicalization of Everyday Life. International Journal of Health Services, 10(3), 365–388.
  • Thaler, R. H., Sunstein, C. R., & Balz, J. P. (2013). Choice Architecture. In E. Shafir (Ed.), The Behavioral Foundations of Public Policy. Princeton University Press.
  • Smith, M., Hosking, J., Woodward, A., et al. (2017). Systematic literature review of built environment effects on physical activity and active transport—an update and new findings on health equity. International Journal of Behavioral Nutrition and Physical Activity, 14, 158.
  • Stappers, N. E. H., van Kann, D. H. H., Ettema, D., de Vries, N. K., & Kremers, S. P. J. (2018). The effect of infrastructural changes in the built environment on physical activity, active transportation and sedentary behavior: A systematic review. Health & Place, 53, 135–149.
  • Bucher, T., Collins, C., Rollo, M. E., et al. (2016). Nudging consumers towards healthier choices: A systematic review of positional influences on food choice. British Journal of Nutrition, 115(12), 2252–2263.
  • Lindstrom, K. N., Tucker, J. A., & McVay, M. (2023). Nudges and choice architecture to promote healthy food purchases in adults: A systematized review. Psychology of Addictive Behaviors, 37(1), 87–103.
  • Badan Kebijakan Pembangunan Kesehatan, Kementerian Kesehatan RI. (2023). Survei Kesehatan Indonesia 2023: Aktivitas Fisik Penduduk Indonesia.
  • World Health Organization. Promoting walking, cycling and other forms of active mobility for health and sustainable cities.
  • LintasLari Jogja. Kalender Event Lari Yogyakarta. Diakses Oktober 2026.
  • DetikHealth. (2026). Viral wanita di Surabaya ikut lari 5K sambil gendong anak, keluhkan stroller disita.

Leave a Comment