Likert Tidak Memihak: Parametrik atau Nonparametrik?

Lab #12 · firmansyarifuddin.id Seorang mahasiswa maju sidang membawa data kepuasan pasien. Penguji pertama melihat sekilas lalu berkata, “Ini data ordinal, tidak boleh pakai uji-t. Ganti dengan Mann-Whitney.” Mahasiswa mengangguk, pulang, lalu mengganti uji. Di sidang berikutnya, penguji kedua melihat hasil yang sama dan berkata, “Kenapa repot? Pakai uji-t saja. Hasilnya juga bisa saja sama.” … Read more

Likert Tidak Punya Satu Cara Analisis, Tapi Bukan Berarti Semua Boleh

Lab #11 · firmansyarifuddin.id Bukalah sepuluh skripsi yang sama-sama menggunakan skala Likert. Kemungkinan besar Anda akan menemukan sepuluh cara analisis yang berbeda. Ada yang berhenti pada distribusi persentase. Ada yang menjumlahkan seluruh skor menjadi skor total. Ada yang menghitung rata-rata, lalu memasukkannya ke dalam kategori “rendah”, “sedang”, atau “tinggi”. Ada pula yang langsung melompat ke … Read more

Pertanyaan Dari Sana, Responden Dari Sini

Lab #08 · firmansyarifuddin.id Tulisan sebelumnya berhenti di satu pertanyaan yang sengaja saya gantung. Kalau satu item skala Likert terlalu rapuh dan yang kita butuhkan adalah skor gabungan yang tervalidasi, dari mana skor itu berasal? Dan bagaimana kita tahu bahwa ia memang layak dipercaya? Kabar baiknya, di bidang kesehatan gudang instrumen tervalidasi itu penuh sesak. … Read more

Rensis Likert Tidak Merata-ratakan Satu Pertanyaan

Lab #08 · firmansyarifuddin.id Pada tahun 1932, seorang mahasiswa doktoral di Columbia bernama Rensis Likert menerbitkan disertasi monumental berjudul “A Technique for the Measurement of Attitudes”. Waktu itu, ia sedang berburu cara mumpuni untuk mengukur sesuatu yang sangat licin: sikap manusia terhadap isu sosial. Solusi yang ia tawarkan terbilang rapi dan masih kita gunakan hingga … Read more