Lab #03 ยท firmansyarifuddin.id

Setelah menggunakan AI hampir setiap hari selama setahun terakhir, ada satu kesimpulan sederhana yang sering saya sampaikan kepada teman-teman: “AI itu tergantung Jokinya”
Kalimat tersebut awalnya hanya guyonan. Namun semakin lama saya menggunakannya, semakin saya yakin bahwa kalimat itu mengandung kebenaran yang cukup penting.
Banyak orang bertanya kepada saya tentang AI yang paling bagus. Ada yang bertanya apakah ChatGPT lebih baik daripada Claude, apakah Preplexity, Geminis, dan NotebookLM lebih unggul dibandingkan aplikasi lain, atau apakah perlu berlangganan versi berbayar untuk mendapatkan hasil yang baik.
Pengalaman saya menunjukkan bahwa pertanyaan tersebut sering kali kurang tepat.
Dua orang dapat menggunakan aplikasi yang sama, pada waktu yang sama, bahkan dengan fitur yang sama. Namun hasil yang mereka peroleh bisa sangat berbeda. Perbedaan itu bukan terutama karena teknologinya, melainkan karena penggunanya.
Pada awal menggunakan AI, saya juga sempat terjebak dalam dunia prompting. Saya membaca beberapa artikel, menonton video, dan mempelajari berbagai teknik yang diklaim dapat menghasilkan keluaran yang lebih baik. Saat itu internet dipenuhi berbagai istilah seperti prompt engineering, master prompt, hingga template prompt yang disebut-sebut mampu menghasilkan jawaban berkualitas tinggi.
Saya mencobanya. Sebagian memang membantu.
Namun tidak lama kemudian saya menyadari sesuatu yang menarik.Semakin sering saya menggunakan AI, semakin jarang saya memikirkan prompt.
Percakapan menjadi lebih alami. Saya tidak lagi sibuk mencari formula prompt yang rumit. Saya cukup menjelaskan apa yang sedang saya kerjakan, tujuan yang ingin dicapai, keterbatasan yang saya hadapi, dan hasil seperti apa yang saya harapkan. Dengan kata lain, saya mulai berbicara kepada AI sebagaimana saya berbicara kepada rekan kerja.
Dari situ saya sampai pada kesimpulan pribadi:
Prompt terbaik bukanlah prompt yang paling rumit. Prompt terbaik adalah kejujuran.
Ketika kita menjelaskan konteks secara jujur, menjelaskan masalah yang sebenarnya sedang dihadapi, serta menjelaskan tujuan yang ingin dicapai, kualitas jawaban biasanya jauh lebih baik dibandingkan sekadar menyalin template prompt dari internet.
Saya juga pernah mengalami fase berburu “prompt sakti”. Saat itu cukup banyak konten kreator yang menawarkan berbagai kode rahasia, formula khusus, atau teknik tertentu yang diklaim mampu membuka kemampuan tersembunyi AI. Karena penasaran, saya sampai mengikuti beberapa kreator dalam & luar negeri, membaca diskusi mereka, bahkan mencoba berbagai format yang mereka bagikan.
Suatu ketika saya menemukan sebuah “kode rahasia” yang disebut-sebut dapat membuat Claude bekerja jauh lebih baik dibandingkan penggunaan biasa. Saya mencobanya dengan penuh harapan. Setelah itu, karena penasaran, saya justru bertanya langsung kepada Claude mengenai fungsi kode tersebut.
Jawabannya cukup menghibur.
Kurang lebih Claude menjelaskan bahwa sebagian besar instruksi tersebut hanyalah variasi cara berkomunikasi yang sebenarnya sudah dapat dipahami oleh model tanpa perlu kode khusus. Dengan kata lain, tidak ada tombol rahasia yang tiba-tiba mengubah AI menjadi jauh lebih pintar.
Saat itu saya tertawa sendiri.
Saya teringat waktu yang saya habiskan untuk mencari formula ajaib, padahal yang lebih penting adalah memahami masalah yang ingin diselesaikan. Pengalaman tersebut mengajarkan saya bahwa dalam dunia AI, skeptisisme yang sehat tetap diperlukan. Tidak semua yang terdengar canggih benar-benar memberikan manfaat yang signifikan.
Jika ada satu hal yang saya pelajari setelah setahun menggunakan AI, mungkin ini yang pas yakni saya menghabiskan lebih sedikit waktu mencari prompt sempurna dan lebih banyak waktu memahami persoalan yang ingin saya selesaikan. Ternyata, ketika masalahnya dipahami dengan baik, percakapan dengan AI mengalir dengan sendirinya. Pengalaman lain yang memperkuat keyakinan tersebut adalah ketika saya mulai mencoba berbagai aplikasi AI lainnya seperti mapfy, connected paper. Saya menggunakan NotebookLM untuk membantu memahami dokumen yang panjang. Saya mencoba beberapa aplikasi yang membantu pencarian literatur ilmiah. Saya juga bereksperimen dengan aplikasi visualisasi ide dan berbagai alat AI lainnya yang terus bermunculan hampir setiap bulan.
Masing-masing memiliki kelebihan. Namun saya menemukan pola yang sama.
Jika saya memberikan sumber yang baik, hasilnya cenderung baik.
Jika saya memberikan konteks yang jelas, hasilnya biasanya lebih relevan.
Sebaliknya, jika saya memberikan informasi yang minim, hasilnya pun sering kali dangkal. Hal ini mengingatkan saya bahwa AI sebenarnya tidak bekerja dalam ruang kosong. Kualitas keluaran sangat dipengaruhi oleh kualitas masukan yang diberikan. Semakin lama saya menggunakan AI, semakin saya menyadari bahwa pengetahuan dasar justru menjadi semakin berharga. Banyak orang beranggapan bahwa AI akan mengurangi kebutuhan untuk membaca, belajar, atau memahami teori. Pengalaman saya justru menunjukkan hal yang sebaliknya.
Seorang pengguna yang memiliki fondasi wawasan yang baik akan memperoleh manfaat yang jauh lebih besar dari AI dibandingkan pengguna yang minim pengetahuan. Ketika seseorang telah membaca banyak buku, memahami teori, mengenal berbagai konsep, dan terbiasa menggunakan sumber referensi yang kredibel, ia akan lebih mudah memberikan konteks, mengoreksi kesalahan, serta mengarahkan diskusi ke arah yang diinginkan.
Dalam kondisi tersebut, AI bekerja seperti akselerator. Ia mempercepat proses berpikir, mempercepat eksplorasi ide, dan mempercepat penyelesaian pekerjaan. Namun arah perjalanannya tetap ditentukan oleh penggunanya.
Sebaliknya, jika seseorang tidak memiliki cukup pemahaman terhadap topik yang sedang dibahas, AI sering kali hanya menjadi mesin penghasil jawaban yang terlihat meyakinkan. Pengguna mungkin memperoleh respons yang cepat, tetapi tidak memiliki bekal yang cukup untuk menilai apakah jawaban tersebut benar, keliru, atau bahkan menyesatkan. Karena itulah saya semakin percaya bahwa kualitas hasil AI tidak hanya ditentukan oleh kecanggihan teknologinya, tetapi juga oleh kualitas pengetahuan yang dibawa pengguna ke dalam percakapan. Semakin kaya wawasan seseorang, semakin besar pula manfaat yang dapat diperoleh dari AI.
Dalam dunia akademik, saya sering melihat fenomena yang serupa. Ada mahasiswa yang menggunakan AI untuk membantu memahami artikel ilmiah, mencari ide penelitian, atau mengecek logika argumen. Hasilnya cukup baik karena AI digunakan untuk memperkuat proses belajar. Namun ada juga mahasiswa yang sekadar menyalin pertanyaan, menyalin jawaban, lalu menganggap tugas selesai. Dalam kasus seperti ini, masalahnya bukan terletak pada AI. Masalahnya adalah tidak adanya proses belajar yang terjadi.
AI yang sama digunakan oleh dua orang yang berbeda, tetapi menghasilkan dampak yang berbeda pula.
Saya sering mengingatkan mahasiswa bahwa menggunakan AI tidak otomatis membuat seseorang lebih pintar. Sama seperti memiliki akses ke perpustakaan tidak otomatis membuat seseorang menjadi ilmuwan. Teknologi hanya menyediakan kesempatan. Manusialah yang menentukan bagaimana kesempatan tersebut digunakan.
Salah satu pengalaman yang cukup berkesan bagi saya adalah ketika mencoba mengembangkan sebuah produk berbasis Internet of Things (IoT). Sebelum menggunakan AI, ide semacam ini mungkin hanya berhenti sebagai bahan diskusi atau angan-angan. Bukan karena idenya tidak menarik, tetapi karena saya tidak memiliki latar belakang teknis yang cukup untuk membayangkan bagaimana ide tersebut dapat diwujudkan.
Dengan bantuan AI, saya mulai dapat memetakan kemungkinan langkah-langkah yang perlu dilakukan. Saya bisa berdiskusi tentang komponen yang dibutuhkan, alur kerja sistem, estimasi biaya, hingga tantangan yang mungkin muncul selama proses pengembangan. Tentu saja AI tidak membuat produk tersebut secara otomatis. Namun AI membantu mengubah sebuah ide yang semula terasa abstrak menjadi rencana yang lebih konkret dan dapat dieksekusi.
Pengalaman tersebut membuat saya menyadari bahwa salah satu manfaat terbesar AI bukan hanya membantu menyelesaikan pekerjaan yang sudah kita pahami, tetapi juga membantu menjelajahi wilayah pengetahuan yang sebelumnya terasa jauh dari jangkauan. AI tidak menggantikan rasa ingin tahu. Justru AI memperbesar peluang bagi rasa ingin tahu untuk berkembang menjadi tindakan nyata. Karena itu saya mulai kurang tertarik pada perdebatan mengenai aplikasi AI mana yang paling canggih. Perkembangan teknologi berlangsung terlalu cepat. Hari ini sebuah aplikasi dianggap terbaik, beberapa bulan kemudian mungkin muncul pesaing baru dengan kemampuan yang lebih mengesankan.
Yang menurut saya lebih penting adalah kemampuan pengguna dalam berpikir, membaca, memahami konteks, dan mengajukan pertanyaan yang bermakna. Kemampuan-kemampuan tersebut justru menjadi semakin penting di era AI.
Semakin lama saya menggunakan AI, semakin saya percaya bahwa teknologi ini tidak mengurangi pentingnya pengetahuan dasar. Sebaliknya, AI justru memperbesar manfaat yang dapat diperoleh oleh mereka yang memiliki rasa ingin tahu yang tinggi dan kemauan untuk terus belajar.
Karena pada akhirnya, AI hanyalah kendaraan.
Dan seperti kendaraan lainnya, kualitas perjalanan sangat bergantung pada siapa yang berada di balik kemudinya.