1,5 Juta Kader Kesehatan: Lalu Kenapa?

Future #06. Firmansyarifuddin.id Indonesia memiliki aset kesehatan komunitas terbesar di dunia yang hampir tidak pernah disebut dengan nama yang tepat. Satu koma lima juta kader kesehatan. Tersebar dari Sabang sampai Merauke. Hadir di desa dan kelurahan, di posyandu dan posbindu, di sela-sela kehidupan sehari-hari komunitas yang tidak pernah tersentuh oleh sistem formal. Mereka adalah mata … Read more

Siapa yang Membayar Pencegahan?

Future #05. Firmansyarifuddin.id Ada angka yang perlu dibaca berdampingan. Kapitasi JKN untuk layanan primer naik dari 14 triliun menjadi 19 triliun rupiah, begitu yang dilaporkan dalam Sintesis Pleno 3 Leimana Conference 2026 (Prof. Dr. dr. Deni Kurniadi Sunjaya, DESS). Itu kenaikan yang signifikan, hampir 36 persen. Di atas kertas, ini adalah bukti komitmen yang meningkat … Read more

Data Bertambah, Pengetahuan Tidak Auto Bertumbuh

Future #04 · firmansyarifuddin.id Saya membaca sintesis hasil Leimana Conference 2026 konferensi yang diselenggarakan Kemenkes bersama PHC Consortium pada 28-29 Juli 2026, yang membahas masa depan layanan kesehatan primer Indonesia — dengan perasaan yang campur aduk. Di satu sisi, ada kabar yang menggembirakan. Garut berhasil mengembangkan KuApps dengan AI OCR untuk posyandu digital 14.298 sasaran … Read more

Puskesmas 1000 Wajah

Future #03 · firmansyarifuddin.id Ada satu kalimat dalam sintesis Leimana Conference 2026 yang saya baca berulang kali: “Hapus strategi satu ukuran untuk semua.” Kalimat itu terdengar sederhana. Tapi jika benar-benar diikuti konsekuensinya, ia adalah salah satu perubahan paling radikal yang bisa terjadi dalam sejarah sistem kesehatan primer Indonesia. Karena selama lebih dari lima dekade, itulah … Read more

Likert Tidak Memihak: Parametrik atau Nonparametrik?

Lab #12 · firmansyarifuddin.id Seorang mahasiswa maju sidang membawa data kepuasan pasien. Penguji pertama melihat sekilas lalu berkata, “Ini data ordinal, tidak boleh pakai uji-t. Ganti dengan Mann-Whitney.” Mahasiswa mengangguk, pulang, lalu mengganti uji. Di sidang berikutnya, penguji kedua melihat hasil yang sama dan berkata, “Kenapa repot? Pakai uji-t saja. Hasilnya juga bisa saja sama.” … Read more

Persimpangan Nilai Profesi di RS, Kampus, dan Organisasi Modern Saat ini !

Essay #07· firmansyarifuddin.id Beberapa hari terakhir, media sosial kembali ramai membahas dugaan komentar seorang dokter peserta Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) terhadap pasien BPJS Kesehatan. Reaksi publik hampir seragam: marah, kecewa, bahkan mempertanyakan empati profesi dokter. Sebagian menganggap persoalan ini sebagai cerminan arogansi individu. Sebagian lain melihatnya sebagai bukti bahwa pelayanan kesehatan semakin kehilangan sisi … Read more

Likert Tidak Punya Satu Cara Analisis, Tapi Bukan Berarti Semua Boleh

Lab #11 · firmansyarifuddin.id Bukalah sepuluh skripsi yang sama-sama menggunakan skala Likert. Kemungkinan besar Anda akan menemukan sepuluh cara analisis yang berbeda. Ada yang berhenti pada distribusi persentase. Ada yang menjumlahkan seluruh skor menjadi skor total. Ada yang menghitung rata-rata, lalu memasukkannya ke dalam kategori “rendah”, “sedang”, atau “tinggi”. Ada pula yang langsung melompat ke … Read more

Pertanyaan Dari Sana, Responden Dari Sini

Lab #08 · firmansyarifuddin.id Tulisan sebelumnya berhenti di satu pertanyaan yang sengaja saya gantung. Kalau satu item skala Likert terlalu rapuh dan yang kita butuhkan adalah skor gabungan yang tervalidasi, dari mana skor itu berasal? Dan bagaimana kita tahu bahwa ia memang layak dipercaya? Kabar baiknya, di bidang kesehatan gudang instrumen tervalidasi itu penuh sesak. … Read more

Rensis Likert Tidak Merata-ratakan Satu Pertanyaan

Lab #08 · firmansyarifuddin.id Pada tahun 1932, seorang mahasiswa doktoral di Columbia bernama Rensis Likert menerbitkan disertasi monumental berjudul “A Technique for the Measurement of Attitudes”. Waktu itu, ia sedang berburu cara mumpuni untuk mengukur sesuatu yang sangat licin: sikap manusia terhadap isu sosial. Solusi yang ia tawarkan terbilang rapi dan masih kita gunakan hingga … Read more

Ketika Layanan Ada tapi Keadilan Belum Hadir (Amartya Sen, Daniels, dkk)

Ada pertanyaan yang sering saya ajukan dalam diskusi kebijakan kesehatan dan jawabannya hampir selalu membuat orang tidak nyaman: Apakah sistem kesehatan yang menjangkau 90 persen warga bisa disebut adil, jika 10 persen yang tidak terjangkau adalah mereka yang paling membutuhkan? Kebanyakan orang menjawab dengan data cakupan. Berapa persen yang terdaftar BPJS. Berapa Puskesmas yang sudah … Read more