Di Era AI, Apakah Peneliti Masih Perlu Imajinasi?

Lab #17 · firmansyarifuddin.id Pada tulisan sebelumnya, saya membahas dua gagasan yang saling berhubungan. Dari W. I. B. Beveridge, kita belajar bahwa penelitian bukan sekadar menjalankan metode. Kemudian dari John Stuart Mill, persoalannya bergerak lebih jauh: setelah mengetahui sesuatu, kita masih harus bertanya, apa yang sebaiknya dilakukan dengan pengetahuan tersebut? Sekarang muncul pertanyaan baru. Kita … Read more

Mengetahui Belum Tentu Tahu Harus Berbuat Apa

Lab #16 · firmansyarifuddin.id Pada tulisan sebelumnya, saya membahas gagasan sederhana dari W. I. B. Beveridge: penelitian adalah seni menemukan sesuatu yang layak diketahui. Kita melihat sesuatu, merasa ada yang janggal, lalu mulai bertanya. Dari sana kita mengumpulkan bukti, menyusun penjelasan, dan mencoba memahami apa yang sebenarnya sedang terjadi. Tetapi perjalanan ilmu tidak berhenti ketika … Read more

Penelitian Adalah Seni Menemukan Sesuatu yang Layak Diketahui

Lab #15 · firmansyarifuddin.id Ada satu kebiasaan menarik ketika mahasiswa mulai belajar penelitian. Pertanyaan pertama yang muncul sering kali: “Pak, saya sebaiknya meneliti apa?” Secara administratif mungkin tidak ada yang salah. Tetapi ada pertanyaan yang lebih mendasar: Apakah penelitian memang dimulai dari mencari judul? Buku klasik karya W. I. B. Beveridge, The Art of Scientific … Read more

Angka Likert Itu Sebenarnya Skala Ukur Apa?

Lab #14 · firmansyarifuddin.id Seorang mahasiswa menulis pada definisi operasional: “Kepuasan pasien diukur menggunakan 15 pertanyaan skala Likert. Skala ukur: ordinal.” Di bagian analisis, ia menghitung skor total dan menyajikan nilai rata-rata. Setelah itu, skor tersebut dipotong menjadi kategori “puas” dan “tidak puas”, lalu dianalisis menggunakan Chi-Square. Instrumennya satu, tetapi datanya seperti memiliki tiga identitas. … Read more

Dari Mana Kategori Rendah, Sedang, dan Tinggi Berasal Dalam Data Skala Likert?

Lab #13 · firmansyarifuddin.id Ada kebiasaan yang sangat sering muncul dalam skripsi. Mahasiswa menyusun, menyebarkan kuesioner, mengubah jawaban menjadi angka, menghitung skor, lalu membagi hasilnya ke dalam kategori: Sampai di sini tidak ada masalah. Masalah biasanya muncul ketika ditanya: “Mengapa batasnya 55 dan 75?” Jawabannya sering kali sederhana: “Karena itu rumus yang biasa digunakan.” Kalimat … Read more

Likert Tidak Memihak: Parametrik atau Nonparametrik?

Lab #12 · firmansyarifuddin.id Seorang mahasiswa maju sidang membawa data kepuasan pasien. Penguji pertama melihat sekilas lalu berkata, “Ini data ordinal, tidak boleh pakai uji-t. Ganti dengan Mann-Whitney.” Mahasiswa mengangguk, pulang, lalu mengganti uji. Di sidang berikutnya, penguji kedua melihat hasil yang sama dan berkata, “Kenapa repot? Pakai uji-t saja. Hasilnya juga bisa saja sama.” … Read more

Likert Tidak Punya Satu Cara Analisis, Tapi Bukan Berarti Semua Boleh

Lab #11 · firmansyarifuddin.id Bukalah sepuluh skripsi yang sama-sama menggunakan skala Likert. Kemungkinan besar Anda akan menemukan sepuluh cara analisis yang berbeda. Ada yang berhenti pada distribusi persentase. Ada yang menjumlahkan seluruh skor menjadi skor total. Ada yang menghitung rata-rata, lalu memasukkannya ke dalam kategori “rendah”, “sedang”, atau “tinggi”. Ada pula yang langsung melompat ke … Read more

Pertanyaan Dari Sana, Responden Dari Sini

Lab #08 · firmansyarifuddin.id Tulisan sebelumnya berhenti di satu pertanyaan yang sengaja saya gantung. Kalau satu item skala Likert terlalu rapuh dan yang kita butuhkan adalah skor gabungan yang tervalidasi, dari mana skor itu berasal? Dan bagaimana kita tahu bahwa ia memang layak dipercaya? Kabar baiknya, di bidang kesehatan gudang instrumen tervalidasi itu penuh sesak. … Read more

Rensis Likert Tidak Merata-ratakan Satu Pertanyaan

Lab #08 · firmansyarifuddin.id Pada tahun 1932, seorang mahasiswa doktoral di Columbia bernama Rensis Likert menerbitkan disertasi monumental berjudul “A Technique for the Measurement of Attitudes”. Waktu itu, ia sedang berburu cara mumpuni untuk mengukur sesuatu yang sangat licin: sikap manusia terhadap isu sosial. Solusi yang ia tawarkan terbilang rapi dan masih kita gunakan hingga … Read more

Ketika Mahasiswa dan Dosen Menggunakan AI yang Sama

Lab #09 · firmansyarifuddin.id Beberapa waktu terakhir saya sering menemukan pemandangan yang sama di kelas. Saya terpikir, ini fenomena yang unik, mungkin saja ini pertama kalinya dalam sejarah pendidikan, dosen dan mahasiswa memiliki akses terhadap “asisten” yang hampir sama. Hal ini membuat saya bertanya: Jika dosen dan mahasiswa menggunakan AI yang sama, apa yang sebenarnya … Read more