Penelitian Adalah Seni Menemukan Sesuatu yang Layak Diketahui

Lab #15 · firmansyarifuddin.id

Ada satu kebiasaan menarik ketika mahasiswa mulai belajar penelitian.

Pertanyaan pertama yang muncul sering kali: “Pak, saya sebaiknya meneliti apa?”

  • Kemudian kita membuka jurnal.
  • Mencari judul penelitian sebelumnya.
  • Mengganti lokasi.
  • Mengganti responden.
  • Sedikit mengganti variabel.
  • Lalu jadilah sebuah proposal.

Secara administratif mungkin tidak ada yang salah. Tetapi ada pertanyaan yang lebih mendasar:

Apakah penelitian memang dimulai dari mencari judul?

Buku klasik karya W. I. B. Beveridge, The Art of Scientific Investigation menawarkan pandangan yang berbeda. Beveridge tidak mengajarkan bagaimana membuat proposal, menentukan jumlah sampel, atau memilih teknik analisis. Ia membicarakan sesuatu yang jauh lebih mendasar: bagaimana pengetahuan ditemukan.

Dan menariknya, proses itu ternyata tidak selalu rapi. Ada pengamatan. Ada rasa penasaran.

Ada dugaan. Ada kegagalan. Ada kejadian yang tidak direncanakan. Ada intuisi. Ada imajinasi.

Ada saat ketika peneliti harus berhenti dan berkata: “Sebentar. Ada sesuatu yang menarik di sini.”

Di situlah penelitian mulai terasa seperti sebuah seni.

Buku tentang Cara Berpikir Seorang Peneliti

The Art of Scientific Investigation pertama kali diterbitkan pada pertengahan abad ke-20.

Usianya memang sudah cukup tua. Tetapi yang dibicarakan Beveridge justru relatif tidak lekang oleh waktu. Ia membahas berbagai unsur yang membentuk proses penemuan ilmiah: persiapan, eksperimen, kebetulan (chance), hipotesis, imajinasi, intuisi, penalaran, kesulitan dalam penelitian, strategi, hingga karakter seorang ilmuwan. Menariknya, daftar tersebut berbeda dari susunan buku metodologi yang biasa kita baca. Tidak ada kesan bahwa penelitian hanyalah:

Bab I → Bab II → Bab III → pengumpulan data → hasil → selesai. Beveridge melihat penelitian sebagai aktivitas intelektual manusia. Metode memang penting. Tetapi metode hanyalah sebagian dari cerita. Peneliti juga membutuhkan kemampuan melihat sesuatu yang menarik ketika orang lain menganggapnya biasa.

Dari Melihat Menjadi Menemukan

Bayangkan seorang mahasiswa setiap hari melewati kantin kampus. Setiap sore ia melihat banyak makanan tersisa dan dibuang. Bagi sebagian besar orang, itu hanya sampah makanan. Pemandangan sehari-hari.

Tidak menarik.

Tetapi mahasiswa yang sedikit lebih penasaran mungkin berhenti dan bertanya: “Mengapa makanan sebanyak ini selalu tersisa?” Pertanyaan berikutnya mulai muncul:

  • Apakah porsinya terlalu besar?
  • Apakah mahasiswa tidak menyukai menunya?
  • Apakah waktu makan terlalu singkat?
  • Apakah mahasiswa membeli makanan karena murah tetapi tidak menghabiskannya?
  • Apakah sisa makanan tertentu lebih banyak dibanding makanan lainnya?

Perhatikan apa yang baru saja terjadi. Objeknya tidak berubah.

Sisa makanan tetap sisa makanan. Yang berubah adalah cara melihatnya.

Dan di situlah salah satu inti penelitian. Penelitian bukan sekadar mengumpulkan sesuatu yang belum memiliki data. Kadang penelitian dimulai ketika seseorang melihat sesuatu yang selama ini ada di depan mata, tetapi belum benar-benar dipertanyakan.

 Ilmu Pengetahuan Sering Dimulai dari Kalimat Sederhana

Banyak mahasiswa merasa pertanyaan penelitian harus terdengar rumit agar terlihat ilmiah. Padahal pertanyaan yang baik kadang sangat sederhana. Misalnya kita melihat dua Puskesmas.

  • Jumlah tenaga hampir sama.
  • Wilayah kerjanya mirip.
  • Anggarannya tidak jauh berbeda.
  • Program yang dijalankan juga berasal dari kebijakan yang sama.
  • Tetapi hasil pelayanannya sangat berbeda.
  • Kita bisa berhenti pada tabel capaian.

Puskesmas A = 82%. | Puskesmas B = 47%.

Selesai.

Atau kita bisa bertanya:“Mengapa dua organisasi dengan sumber daya yang hampir sama menghasilkan kinerja yang sangat berbeda?” Sekarang angka tidak lagi sekadar angka. Angka berubah menjadi petunjuk. Di sinilah penelitian mulai bergerak dari kegiatan mencatat menuju kegiatan memahami.

Jangan Terlalu Cepat Mengabaikan Sesuatu yang Aneh

Salah satu pembahasan menarik Beveridge adalah chance, kejadian tidak terduga dalam proses penelitian.

Penelitian biasanya dibuat seolah-olah semuanya berjalan lurus. Pertanyaan penelitian ditentukan.

  • Hipotesis dibuat.
  • Data dikumpulkan.
  • Jawaban ditemukan.
  • Kenyataannya sering tidak demikian.

Kadang hal yang paling menarik justru muncul ketika sesuatu tidak berjalan sesuai rencana. Bayangkan mahasiswa sedang meneliti kehadiran peserta Posyandu. Ia memperkirakan Posyandu yang dekat dengan permukiman akan memiliki kunjungan lebih tinggi. Tetapi datanya menunjukkan hal aneh. Ada Posyandu yang lokasinya cukup jauh, tetapi kehadiran masyarakat justru sangat tinggi.

  • Pilihan pertama: “Ah, ini mungkin data aneh.”
  • Pilihan kedua: “Mengapa justru Posyandu yang lebih jauh lebih ramai?”

Kemudian ditemukan bahwa kader di wilayah tersebut aktif mengingatkan warga, jadwalnya disesuaikan dengan aktivitas masyarakat, dan terdapat hubungan sosial yang sangat kuat antara kader dengan keluarga sasaran. Temuan menarik itu tidak muncul karena peneliti mengikuti hipotesis secara kaku. Ia muncul karena peneliti memperhatikan sesuatu yang tidak sesuai dugaan. Beveridge mengingatkan bahwa penemuan sering membutuhkan pikiran yang siap mengenali arti dari suatu kejadian yang tidak direncanakan. Kebetulan memang bisa datang kepada siapa saja. Tetapi tidak semua orang mampu melihat bahwa kebetulan tersebut penting.

Imajinasi Ternyata Bagian dari Penelitian

Ini mungkin salah satu bagian buku Beveridge yang paling menarik.

Imajinasi.

Kata ini biasanya lebih dekat dengan novelis, pelukis, atau seniman dibanding peneliti. Padahal ilmu pengetahuan juga membutuhkan imajinasi.,Sebelum sesuatu dapat diuji, seseorang harus mampu membayangkan:

“Bagaimana kalau sebenarnya mekanismenya seperti ini?”

Misalnya seorang mahasiswa melihat mahasiswa lain sering mengantuk di kelas pagi. Ia bisa membuat penelitian sederhana: Hubungan durasi tidur dengan kantuk mahasiswa.

Tidak salah. Tetapi imajinasi ilmiah dapat membawa pertanyaan lebih jauh.

  • Bagaimana kalau masalahnya bukan hanya durasi tidur?
  • Bagaimana kalau mahasiswa tidur cukup lama tetapi tidur sangat larut?
  • Bagaimana kalau mereka bekerja pada malam hari?
  • Bagaimana kalau penggunaan telepon seluler sebelum tidur memengaruhi kualitas tidur?
  • Bagaimana kalau perjalanan dari rumah ke kampus sangat panjang?

Satu fenomena sederhana membuka berbagai kemungkinan penjelasan. Itulah fungsi imajinasi dalam ilmu pengetahuan. Bukan mengarang jawaban. Tetapi membayangkan kemungkinan yang kemudian dapat diperiksa.

Hipotesis Bukan Jawaban yang Harus Menang

Setelah memiliki dugaan, peneliti kemudian mengujinya. Bagian sinilah hipotesis bekerja. Namun Beveridge mengingatkan bahwa hipotesis seharusnya diperlakukan sebagai alat berpikir, bukan sesuatu yang harus dibela.

Misalnya kita menduga: Mahasiswa tidak sarapan karena tidak memahami pentingnya sarapan.

  • Kemudian penelitian dilakukan.
  • Ternyata sebagian besar mahasiswa memahami manfaat sarapan dengan sangat baik.
  • Masalahnya justru mereka harus berangkat terlalu pagi.
  • Ada yang tinggal jauh dari kampus.
  • Ada yang memilih tidur lebih lama.
  • Ada pula yang tidak sempat menyiapkan makanan.

Apa artinya? Dugaan awal kita mungkin salah. Tetapi penelitian justru berhasil memberikan pemahaman yang lebih baik. Dalam ilmu pengetahuan, kalimat:

“Ternyata dugaan saya salah.”

bukan tanda kegagalan. Kadang justru itulah saat pengetahuan bertambah.

Melihat Hal Biasa dengan Pertanyaan yang Tidak Biasa

  • Coba lihat beberapa fenomena berikut.
  • Antrean Puskesmas panjang.
  • Mahasiswa sering terlambat.
  • Banyak orang tidak menghabiskan antibiotik.
  • Kader Posyandu aktif di satu wilayah tetapi pasif di wilayah lain.
  • Orang tahu merokok berbahaya tetapi tetap merokok.
  • Program kesehatan memiliki anggaran besar tetapi capaiannya rendah.
  • Anak muda memiliki akses informasi kesehatan yang luar biasa banyak tetapi perilaku kesehatannya belum tentu lebih baik.

Semuanya adalah fenomena biasa. Kita melihatnya setiap hari. Yang membuatnya menjadi penelitian bukan fenomenanya. Yang membuatnya menjadi penelitian adalah pertanyaan yang kita ajukan terhadap fenomena tersebut.

  • Mengapa?
  • Bagaimana?
  • Dalam kondisi apa?
  • Mengapa di tempat A berbeda dengan tempat B?
  • Siapa yang memperoleh manfaat?
  • Siapa yang tertinggal?
  • Apa yang selama ini kita anggap benar tetapi sebenarnya belum pernah kita periksa?

Pertanyaan semacam inilah yang mengubah keseharian menjadi bahan pengetahuan.

Penelitian Bukan Perburuan Topik yang Belum Pernah Diteliti

Ada nasihat yang sering membuat mahasiswa panik: “Cari sesuatu yang belum pernah diteliti.”

Akibatnya mahasiswa berburu topik seperti mencari tanah kosong. Semakin jauh dan semakin asing, dianggap semakin bagus. Padahal kebaruan penelitian tidak selalu berarti menemukan objek yang belum pernah disentuh siapa pun. Hal yang sama dapat dilihat dengan pertanyaan yang berbeda.

  • Puskesmas telah diteliti ribuan kali.
  • Hipertensi telah diteliti puluhan tahun.
  • Posyandu juga bukan topik baru.

Tetapi masih banyak pertanyaan penting yang belum benar-benar kita pahami. Misalnya:

  • Mengapa program yang sama menghasilkan capaian berbeda?
  • Mengapa masyarakat masuk ke pelayanan tetapi tidak bertahan sampai pengobatan selesai?
  • Mengapa pelayanan tersedia tetapi tidak selalu digunakan?
  • Mengapa kelompok dengan kebutuhan kesehatan terbesar justru kadang memperoleh pelayanan paling sedikit?

Kebaruan dapat muncul bukan karena objeknya baru. Tetapi karena cara kita melihat masalahnya baru.

Data Bukan Pengetahuan

Hari ini kita hidup dalam dunia yang memiliki semakin banyak data.

  • Dashboard bertambah.
  • Indikator bertambah.
  • Survei bertambah.
  • Laporan bertambah.
  • Aplikasi bertambah.

Tetapi bertambahnya data tidak otomatis berarti bertambahnya pengetahuan. Bayangkan sebuah institusi memiliki data selama sepuluh tahun.

  • Setiap tahun angka dikumpulkan.
  • Setiap tahun tabel dibuat.
  • Setiap tahun laporan disusun.

Tetapi pertanyaan yang diajukan tetap sama: “Berapa capaiannya?”

Padahal data yang sama mungkin dapat digunakan untuk bertanya:

  • Mengapa capaian naik?
  • Mengapa kemudian turun?
  • Mengapa variasi antarwilayah sangat besar?
  • Mengapa tambahan sumber daya tidak selalu meningkatkan hasil?
  • Mengapa kelompok tertentu terus tertinggal?

Pada titik itu data berhenti menjadi sekadar arsip. Ia mulai menjadi bahan untuk berpikir.

Metode Adalah Alat, Bukan Tujuan

Beveridge tidak sedang mengatakan bahwa metode tidak penting. Justru penelitian membutuhkan disiplin, pengujian, penalaran, dan bukti. Tetapi ada urutan yang perlu dijaga. Kita seharusnya tidak jatuh cinta terlebih dahulu kepada alat. Baru kemudian mencari masalah yang cocok dengan alat tersebut.

Kita mulai dari sesuatu yang ingin dipahami. Kemudian mencari cara paling masuk akal untuk memahaminya.

  • Kadang caranya survei.
  • Kadang wawancara.
  • Kadang observasi.
  • Kadang eksperimen.
  • Kadang membaca dokumen.
  • Kadang membandingkan beberapa kasus.

Kadang menggunakan data yang sebenarnya sudah bertahun-tahun tersimpan. Metode mengikuti pertanyaan. Bukan pertanyaan mengikuti metode.

Peneliti yang Baik Tidak Sekadar Pintar Menjawab

Setelah membaca Beveridge, saya justru mendapat kesan bahwa salah satu kualitas penting seorang peneliti bukan hanya kemampuan memberikan jawaban. Tetapi kemampuan menemukan pertanyaan yang layak dijawab.

Dan kemampuan semacam ini tidak selalu muncul dari membaca buku metodologi. Ia tumbuh dari kebiasaan memperhatikan.

  • Membaca.
  • Membandingkan.
  • Meragukan sesuatu yang dianggap biasa.
  • Mencatat kejanggalan.
  • Berbicara dengan orang.
  • Melihat apa yang terjadi di lapangan.

Dan sesekali bertanya: “Mengapa kita melakukan ini dengan cara seperti ini?” Pertanyaan sederhana tersebut kadang lebih produktif daripada puluhan halaman teori.

Seni Menemukan Sesuatu yang Layak Diketahui

Judul buku Beveridge menggunakan kata art.

Seni.

Mungkin karena penelitian memang tidak sepenuhnya bisa direduksi menjadi prosedur. Ada metode yang bisa dipelajari. Ada teknik yang bisa diajarkan. Ada aturan yang harus dipatuhi. Tetapi ada pula sesuatu yang tumbuh melalui pengalaman:

kepekaan melihat masalah, rasa ingin tahu, kemampuan menghubungkan sesuatu, keberanian mempertanyakan asumsi, imajinasi untuk melihat kemungkinan, dan kesabaran mengikuti sebuah pertanyaan sampai kita memahami sesuatu yang sebelumnya tidak kita pahami.

Karena itu penelitian seharusnya tidak dimulai dengan: “Judul apa yang mudah dikerjakan?”

Mungkin pertanyaan yang lebih menarik adalah: “Ada sesuatu di sekitar saya yang belum benar-benar saya pahami?”

Lihat sekeliling. Kampus. Puskesmas. Rumah sakit. Pasar. Keluarga. Media sosial. Kebiasaan makan. Perjalanan pasien. Cara organisasi bekerja. Data yang setiap tahun dikumpulkan tetapi tidak pernah benar-benar dibaca. Kemudian berhentilah pada sesuatu yang terasa janggal. Dan tanyakan:

“Mengapa bisa begini?”

Dari situlah sebuah penelitian bisa dimulai. Bukan karena kita sudah menemukan metode. Bukan karena kita sudah memiliki kuesioner. Bukan pula karena kita sudah menemukan judul. Tetapi karena kita menemukan sesuatu yang layak diketahui.

Sumber Bacaan:

Beveridge, W. I. B. (1950). The Art of Scientific Investigation. New York: W.W. Norton & Company.

Leave a Comment