Ketika Mahasiswa dan Dosen Menggunakan AI yang Sama

Lab #09 ยท firmansyarifuddin.id

Beberapa waktu terakhir saya sering menemukan pemandangan yang sama di kelas.

  • Ketika mahasiswa mendapatkan tugas, mereka membuka aplikasi AI.
  • Ketika saya menyiapkan materi kuliah, saya juga membuka aplikasi AI.
  • Ketika mahasiswa mencari referensi, mereka menggunakan AI.
  • Ketika saya mengembangkan ide penelitian atau menulis artikel, saya juga menggunakan AI.

Saya terpikir, ini fenomena yang unik, mungkin saja ini pertama kalinya dalam sejarah pendidikan, dosen dan mahasiswa memiliki akses terhadap “asisten” yang hampir sama.

Hal ini membuat saya bertanya: Jika dosen dan mahasiswa menggunakan AI yang sama, apa yang sebenarnya masih membedakan keduanya?

Awalnya saya mengira jawabannya adalah pengetahuan. Namun setelah mengamati mahasiswa menggunakan AI dalam berbagai pengalaman belajar dikelas,  dan termasuk tugas. Saya mulai menyadari bahwa jawabannya lebih kompleks. Karena dalam praktiknya, akses terhadap AI ternyata bukan masalah utama. Masalah yang lebih sering muncul justru terletak pada bagaimana informasi tersebut digunakan.

Saya sering menemukan mahasiswa yang menghasilkan jawaban sangat rapi. Bahasanya baik. Argumennya terlihat meyakinkan. Strukturnya juga cukup sistematis. Namun ketika saya bertanya:

“Referensinya dari mana?” atau “Artikel mana yang mendukung pernyataan ini?”

sering kali mereka kesulitan menjawab. Sebagian dapat menunjukkan sumbernya.

Sebagian lagi tidak benar-benar mengetahui asal-usul informasi yang mereka gunakan. Fenomena ini terus berulang. Dari satu ke  mahasiswa lain, Mata kuliah demi mata kuliah. Dan menariknya, masalahnya hampir selalu sama. Bukan karena mahasiswa malas. Bukan karena mereka tidak mampu belajar.

Tetapi karena AI membuat proses memperoleh jawaban menjadi jauh lebih cepat dibandingkan proses memahami sumber pengetahuannya. Di titik itulah saya mulai menyadari sesuatu. Jika mahasiswa dan dosen sama-sama menggunakan AI, maka kemampuan yang semakin penting bukan lagi kemampuan mencari jawaban. Kemampuan yang semakin penting adalah kemampuan menelusuri dan mengevaluasi sumber pengetahuan.

Dari pengalaman-pengalaman tersebut, saya mulai melakukan beberapa percobaan di kelas. Salah satunya adalah meminta setiap mahasiswa melampirkan tabel telaah referensi pada setiap tugas yang mereka kumpulkan. Untuk tugas perkuliahan, saya menyebutnya tabel telaah referensi.

Sedangkan untuk mahasiswa skripsi, saya menggunakan istilah yang sedikit berbeda: tabel pustaka pribadi.

Prinsipnya sederhana. Mahasiswa tidak hanya menyerahkan hasil akhir. Mereka juga harus menunjukkan proses berpikir dan sumber pengetahuan yang mereka gunakan. Dalam tabel tersebut, mahasiswa diminta mencatat secara sistematis:

  • sumber referensi yang digunakan,
  • penulis dan tahun publikasi,
  • gagasan utama dari setiap sumber,
  • relevansinya dengan topik yang sedang dibahas,
  • serta bagaimana referensi tersebut digunakan dalam tugas mereka.

Awalnya sebagian mahasiswa menganggap tugas ini merepotkan. Karena mereka harus membaca lebih banyak. Mereka harus melacak kembali sumber yang digunakan. Mereka harus membedakan mana pendapat pribadi dan mana informasi yang berasal dari referensi. Namun seiring waktu saya mulai melihat perubahan yang menarik. Diskusi menjadi lebih baik. Argumen menjadi lebih kuat. Mahasiswa lebih mudah menjelaskan alasan di balik pendapat yang mereka tulis.

Dan yang paling penting, mereka mulai memahami bahwa kualitas sebuah tulisan tidak hanya ditentukan oleh seberapa baik AI menyusun kalimat. Kualitas tulisan juga ditentukan oleh kualitas sumber yang berada di belakangnya.

Pengalaman ini mengingatkan saya pada satu hal.

AI memang dapat membantu dosen. AI juga dapat membantu mahasiswa.

Namun AI tidak menghilangkan pentingnya literasi akademik. Justru dalam beberapa hal, AI membuat literasi akademik menjadi semakin penting. Karena ketika jawaban dapat diperoleh dengan sangat mudah, kemampuan untuk memeriksa asal-usul jawaban tersebut menjadi jauh lebih berharga. Semakin sering saya menggunakan AI, semakin saya merasa bahwa peran dosen juga sedang berubah.

Dulu dosen sering dipandang sebagai sumber utama informasi. Hari ini informasi tersedia hampir di mana-mana. Mahasiswa dapat memperolehnya dari buku, jurnal, internet, maupun AI.

Dalam situasi seperti ini, nilai seorang dosen tidak lagi terletak semata-mata pada kemampuannya memberikan jawaban. Nilai seorang dosen semakin terletak pada kemampuannya membantu mahasiswa membangun cara berpikir.

Membantu mereka membedakan informasi yang kuat dan yang lemah. Membantu mereka memahami konteks. Membantu mereka melihat hubungan antar gagasan. Dan membantu mereka membangun kebiasaan akademik yang sehat.

Karena pada akhirnya, tantangan terbesar pendidikan di era AI bukanlah bagaimana mendapatkan jawaban. Tantangan terbesar pendidikan di era AI adalah bagaimana memastikan bahwa jawaban tersebut dibangun di atas pemahaman yang benar. Hari ini dosen dan mahasiswa mungkin menggunakan asisten yang sama.

Mereka dapat membuka aplikasi yang sama. Mereka dapat mengajukan pertanyaan yang sama. Mereka bahkan dapat menerima jawaban yang hampir sama.

Namun hasil akhirnya belum tentu sama. Karena kualitas pembelajaran tidak ditentukan oleh siapa yang memiliki AI terbaik. Kualitas pembelajaran ditentukan oleh siapa yang paling mampu memahami, memeriksa, dan mempertanggungjawabkan pengetahuan yang digunakannya.

Leave a Comment