
Sudah sekitar sepuluh tahun saya mengajar. Kalau mengingat tahun-tahun awal menjadi dosen, perhatian saya rasanya lebih banyak tertuju pada materi. Apa yang harus saya ajarkan hari ini, berapa slide yang perlu disiapkan, teori mana yang belum masuk, dan apakah seluruh pokok bahasan bisa selesai sebelum waktu kuliah habis.
Wajar mungkin. Ketika baru mengajar, kita ingin memastikan mahasiswa mendapatkan cukup banyak dari kelas kita. Jangan sampai ada materi penting yang terlewat. Tetapi setelah cukup lama berada di ruang kelas, perhatian saya perlahan bergeser. Saya tidak lagi terlalu khawatir apakah seluruh slide selesai. Saya justru semakin sering memikirkan satu pertanyaan yang kelihatannya sederhana:
Sebenarnya, apa yang saya percayai tentang mahasiswa yang duduk di depan saya?
Pertanyaan itu terdengar agak filosofis. Tetapi hampir semua keputusan seorang dosen di kelas sebenarnya berawal dari sana. Kalau saya menganggap mahasiswa sebagai orang yang belum tahu, tentu pekerjaan saya adalah memberi tahu. Saya membaca lebih banyak, menyiapkan materi, masuk kelas, menjelaskan, mahasiswa mendengarkan, lalu pada akhir semester saya menguji apakah yang pernah saya jelaskan masih mereka ingat.
Dulu saya mungkin cukup nyaman dengan pola itu. Sekarang tidak sepenuhnya.
Saya semakin percaya bahwa mahasiswa tidak pernah datang ke kelas sebagai kertas kosong. Mereka membawa pengalaman, pengetahuan sebelumnya, cerita keluarga, apa yang mereka lihat di masyarakat, apa yang mereka baca di internet, rasa ingin tahu, prasangka, bahkan berbagai pemahaman yang belum tentu benar. Jawaban yang salah sekalipun sebenarnya menarik. Dari sana setidaknya kita bisa melihat bagaimana seseorang sedang berpikir.
Kalau mau dibuat sedikit filosofis, mungkin inilah ontologi saya sebagai dosen: saya percaya mahasiswa adalah manusia yang mempunyai kemampuan untuk berpikir dan bertumbuh. Hanya saja, setelah beberapa tahun mengajar, saya menemukan satu catatan penting.
Mampu berpikir tidak selalu berarti mau berpikir.
Beberapa tahun terakhir saya semakin sering melihat pola belajar yang sangat bergantung pada instruksi. Ketika tugas diberikan, bahkan sebelum persoalannya benar-benar dipikirkan, pertanyaan teknis sudah muncul.
“Pak, formatnya bagaimana?”
“Contohnya ada?”
“Berapa halaman?”
“Mulainya dari mana?”
“Ini sudah benar belum?”
Tidak ada yang salah dengan pertanyaan semacam itu. Instruksi yang jelas memang menjadi tanggung jawab dosen. Tetapi kalau hampir setiap pekerjaan harus dimulai dengan petunjuk yang sangat lengkap, saya mulai bertanya: kapan mahasiswa mempunyai kesempatan untuk menentukan jalannya sendiri? Pola belajarnya akhirnya menjadi sangat sederhana: dosen memberikan instruksi, mahasiswa mengerjakan, tugas dikumpulkan, nilai keluar, kemudian pindah ke tugas berikutnya. Semacam pembelajaran minimalis. Kerjakan yang diminta, penuhi persyaratannya, selesaikan, lalu lanjut.
Efisien, memang.
Masalahnya, dunia setelah kampus tidak selalu menyediakan instruksi serapi itu. Ketika suatu hari mereka bekerja di Puskesmas, rumah sakit, dinas kesehatan, perusahaan, NGO, atau tempat lainnya, masalah tidak datang bersama petunjuk pengerjaan. Tidak ada keterangan teori mana yang harus digunakan, variabel apa yang harus dianalisis, atau langkah pertama yang harus dilakukan. Sering kali pekerjaan pertama justru menentukan: sebenarnya masalahnya apa? Di situlah kemampuan berpikir menjadi penting.
Ironisnya, kebutuhan itu muncul justru ketika informasi semakin mudah diperoleh.
Mahasiswa hari ini mempunyai akses terhadap sumber pengetahuan yang mungkin sulit dibayangkan ketika saya masih kuliah. Buku elektronik, jurnal, video pembelajaran, mesin pencari, sampai artificial intelligence tersedia hampir setiap saat. Tetapi kemudahan mendapatkan informasi tidak otomatis membuat seseorang lebih memahami sesuatu.
Informasi semakin mudah diperoleh. Justru karena itu, kemampuan untuk berpikir semakin penting.
Ada satu kebiasaan sederhana di kelas yang sering membuat saya memikirkan hal tersebut: memfoto slide.
Ketika ada slide yang dianggap penting, telepon genggam langsung keluar.
Klik.
Tersimpan.
Bahan ajar juga begitu. Slide dikumpulkan, PDF disimpan, buku elektronik diunduh, screenshot bertambah. Kalau ada materi tambahan dari dosen, disimpan lagi. Saya tidak keberatan. Saya sendiri sering melakukan hal yang sama ketika mengikuti seminar atau menemukan sesuatu yang menarik. Tetapi semakin banyak bahan yang dikumpulkan, kadang saya justru berpikir:
Kapan semua ini akan dibaca?
Satu telepon genggam hari ini bisa menyimpan perpustakaan yang dulu membutuhkan satu ruangan. Kita bisa memiliki ratusan buku, artikel, slide, dan video tanpa pernah benar-benar berinteraksi dengan sebagian besar isinya. Karena memiliki informasi tidak sama dengan memiliki pengetahuan.
Memfoto slide hanya memindahkan informasi ke telepon. Belum tentu ada sesuatu yang berpindah ke kepala.
Lalu ujian semakin dekat. Folder yang selama berminggu-minggu dikumpulkan mulai dibuka. Slide dibaca cepat. Materi yang dianggap penting diberi perhatian lebih. Mulailah sistem kebut semalam.
Pertanyaannya perlahan berubah. Bukan lagi, “Mengapa konsep ini penting?”
Tetapi, “Yang keluar di ujian yang mana?”
Bukan, “Bagaimana teori ini menjelaskan masalah?”
Tetapi, “Ini perlu dihafal tidak?”
Belajar perlahan berubah dari proses memahami menjadi proses mempersiapkan jawaban. Tetapi rasanya terlalu mudah kalau saya kemudian menyimpulkan: mahasiswa sekarang malas berpikir. Saya justru semakin merasa bahwa kami, para dosen, perlu ikut bercermin. Kita membuat slide yang sangat lengkap. Definisi ada. Teori ada. Contoh ada. Bahkan kesimpulannya sudah tersedia.
Lalu file itu kita bagikan.
Ketika memberikan tugas, kadang hampir semuanya kita tentukan: format, jumlah halaman, urutan pengerjaan, sampai contohnya. Ketika ujian datang, kita masih sering menanyakan sesuatu yang jawabannya bisa ditemukan hampir persis di dalam slide. Setelah itu kita heran mengapa mahasiswa begitu mencintai slide.
Agak lucu juga.
Mungkin mahasiswa hanya sedang memainkan permainan sesuai aturan yang kita buat sendiri.
Kalau keberhasilan akademik terutama ditentukan oleh kemampuan menyelesaikan tugas dan menjawab soal ujian, mencari jalan paling efisien untuk mendapatkan nilai adalah pilihan yang cukup rasional.
Kumpulkan bahan.
Cari yang kemungkinan keluar.
Pelajari menjelang ujian.
Jawab soal.
Dapat nilai.
Lanjut ke mata kuliah berikutnya. Karena itu pertanyaannya tidak cukup hanya, “Mengapa mahasiswa sekarang tidak mau berpikir lebih jauh?”
Saya juga perlu bertanya kepada diri sendiri:
Apakah cara saya mengajar memang memberikan alasan kepada mereka untuk berpikir lebih jauh?
Pertanyaan itu perlahan mengubah cara saya melihat pekerjaan sebagai dosen.
Saya masih membuat slide. Saya masih menjelaskan teori. Saya tetap memberikan bahan bacaan, contoh, dan instruksi. Saya tidak percaya mahasiswa harus menemukan semuanya sendiri.
Tetapi saya mulai lebih berhati-hati agar keinginan membantu tidak berubah menjadi kebiasaan menyediakan seluruh jalan.
Ada perbedaan antara mempermudah mahasiswa belajar dan membuat mahasiswa tidak perlu berpikir.
Kalimat itu semakin penting bagi saya.
Tugas dosen tentu bukan membuat sesuatu menjadi sulit hanya agar terlihat akademis. Konsep yang rumit perlu disederhanakan. Instruksi harus jelas. Mahasiswa yang mengalami kesulitan tetap perlu dibantu. Tetapi bantuan juga mempunyai batas. Kalau setiap pertanyaan langsung kita jawab, setiap masalah langsung kita beri jalan keluar, dan setiap tugas kita berikan contoh sampai bentuk akhirnya, mungkin mahasiswa memang akan menyelesaikan pekerjaannya lebih cepat.
Tetapi belum tentu mereka sedang belajar menemukan jalan sendiri. Karena itu saya mulai nyaman meninggalkan sedikit ruang kosong. Kadang saya memberikan kasus tanpa langsung menjelaskan cara menyelesaikannya. Saya mengajukan pertanyaan dan menunggu sebelum menjawabnya sendiri. Kadang jawaban mahasiswa saya kembalikan lagi menjadi pertanyaan.
Sesekali mereka bingung. Dan mungkin sedikit bingung tidak apa-apa.
Kita sering menganggap kebingungan sebagai tanda bahwa proses belajar gagal. Saya justru mulai melihat bahwa sedikit kebingungan bisa menjadi awal dari proses berpikir. Ketika jawaban tidak langsung tersedia, seseorang mulai mencari, bertanya, membuat dugaan, menghubungkan sesuatu, mencoba, salah, lalu memperbaikinya.
Proses itu memang tidak effortless. Tetapi mungkin memang tidak semua proses belajar harus dibuat tanpa usaha. Mungkin itu pula yang membuat saya satu-dua tahun terakhir semakin menikmati cara mengajar yang terlihat sederhana: spidol, papan tulis, dan sesekali kertas flipchart. Bukan karena saya anti-PowerPoint atau anti-teknologi. Saya menggunakan keduanya. AI pun sekarang menjadi bagian dari kehidupan akademik saya. Saya hanya mulai menyukai sesuatu dari papan yang masih kosong.
Saya menulis satu kata. Mahasiswa menjawab. Saya menambahkan kata lain. Ada yang berbeda pendapat. Saya menggambar garis. Muncul pertanyaan lain. Garisnya bertambah, berubah, kadang dicoret, kemudian dibuat lagi. Perlahan sebuah konsep terbentuk di depan kelas.
Gambarnya belum tentu bagus. Tulisan saya juga belum tentu rapi. Tetapi mahasiswa tidak hanya melihat hasil sebuah pemikiran. Mereka melihat bagaimana pemikiran itu dibangun. Mungkin di situlah pandangan saya tentang pengetahuan juga berubah. Pengetahuan tidak cukup dipindahkan dari kepala dosen ke kepala mahasiswa.
Seseorang bisa menghafal definisi sistem tetapi belum tentu mampu melihat sebuah persoalan sebagai sistem. Seseorang bisa menghafal fungsi manajemen tetapi belum tentu mampu menjelaskan mengapa sebuah program tidak berjalan. Mahasiswa kesehatan masyarakat bahkan bisa hafal bahwa penyakit tidak menular disebabkan banyak faktor, tetapi ketika diminta memberikan solusi diabetes, jawabannya tetap berhenti pada edukasi.
Teori karena itu harus bertemu dengan kenyataan.
Saya semakin menyukai alur sederhana: mulai dari masalah, mengajukan pertanyaan, mendiskusikannya, mencari teori yang membantu menjelaskan, kemudian kembali lagi kepada masalah. Kalau menggunakan bahasa filsafat, mungkin inilah epistemologi saya sebagai dosen. Pengetahuan tidak hanya diterima. Ia dibangun melalui proses bertanya, mencari, menghubungkan, menguji, dan menggunakannya untuk memahami kenyataan.
Apalagi sekarang informasi semakin murah. Mahasiswa bisa bertanya kepada Google. Bisa menonton video. Bisa mencari jurnal. Bisa bertanya kepada AI.
Kalau nilai utama seorang dosen hanya terletak pada kemampuannya menyampaikan informasi, kita sedang berkompetisi dengan mesin yang jauh lebih cepat. Mungkin pekerjaan dosen justru semakin bergeser: membantu mahasiswa membedakan informasi yang penting dan yang tidak, mempertanyakan sesuatu yang terlihat benar, menghubungkan hal-hal yang terlihat terpisah, dan tetap mampu berpikir ketika jawaban belum tersedia. Bagi saya ini semakin penting karena saya mengajar kesehatan masyarakat. Masalah kesehatan hampir tidak pernah datang sendirian. Diabetes bukan hanya urusan gula darah. Stunting bukan hanya urusan makanan. Kecelakaan lalu lintas bukan hanya urusan pengendara. Sampah, pekerjaan, lingkungan, kemiskinan, transportasi, kebijakan, perilaku, pelayanan kesehatan, dan banyak hal lainnya bisa saling bertemu. Maka saya tidak terlalu berharap mahasiswa mengingat semua yang pernah saya ajarkan. Beberapa tahun setelah lulus mereka mungkin lupa sebagian besar slide saya. Mereka mungkin lupa nama teori yang pernah saya tulis di papan. Mereka bahkan mungkin lupa jawaban yang dulu membuat mereka mendapatkan nilai bagus dalam ujian.
Tidak apa-apa.
Saya sendiri juga sudah melupakan banyak hal yang pernah saya pelajari ketika kuliah. Tetapi saya berharap ada sesuatu yang bertahan lebih lama. Ketika melihat masalah, mereka tidak buru-buru mengambil kesimpulan.
Ketika sebuah program gagal, mereka tidak langsung menyalahkan masyarakat.
Ketika menemukan angka yang terlihat bagus, mereka masih mempunyai refleks untuk bertanya, “Benarkah?”
Ketika menghadapi persoalan kesehatan, mereka terbiasa bertanya siapa aktornya, bagaimana sistemnya bekerja, siapa yang mendapatkan manfaat, siapa yang menanggung beban, dan siapa yang mungkin tertinggal.
Kalau mau menggunakan istilah filsafat sekali lagi, mungkin di situlah aksiologinya. Pengetahuan bukan hanya untuk membuat seseorang lebih banyak tahu. Pengetahuan seharusnya membuat seseorang lebih mampu memahami dunia dan mengambil peran di dalamnya. Setelah sepuluh tahun mengajar, saya tidak tahu apakah paradigma ini sudah benar. Mungkin sepuluh tahun lagi saya akan menulis sesuatu yang berbeda. Tetapi setidaknya hari ini saya semakin percaya bahwa mahasiswa bukan kertas kosong. Mereka mempunyai kemampuan untuk berpikir, meskipun kemampuan berpikir tidak selalu berarti seseorang mau menggunakannya. Saya juga semakin percaya bahwa tugas dosen bukan mengisi kepala mahasiswa dengan sebanyak mungkin informasi. Kita tidak mungkin mengajarkan semua persoalan yang kelak akan mereka temui. Bahkan sebagian persoalan itu mungkin belum ada hari ini.
Karena itu, dosen tidak mungkin mengajarkan semua jawaban, tetapi dapat membantu mahasiswa belajar bagaimana mencari jawaban.
Ada saatnya kita menjelaskan. Ada saatnya kita memberikan contoh. Ada saatnya kita menunjukkan jalan. Tetapi ada juga saatnya kita perlu berhenti beberapa langkah lebih awal dan membiarkan mahasiswa melanjutkannya sendiri.
Sebab suatu hari mereka akan meninggalkan kampus. Tidak ada lagi slide yang perlu difoto. Tidak ada kisi-kisi yang bisa dipelajari. Tidak selalu ada instruksi tentang apa yang harus dilakukan. Dan tidak ada dosen yang selalu bisa ditanya, “Pak, ini cara mengerjakannya bagaimana?” Pada saat itu, saya tidak terlalu berharap mereka masih mengingat semua jawaban yang pernah saya berikan.
Saya hanya berharap mereka tahu bagaimana mulai berpikir.