Big Ideas #04 | firmansyarifuddin.id

Pelayanan hipertensi bukan lari jarak pendek. Ia lebih mirip estafet. Skrining adalah pelari pertama. Tindak lanjut adalah pelari berikutnya. Pengobatan, pemantauan, dan pengendalian adalah tahapan berikutnya. Masalahnya, dalam banyak sistem kesehatan, pelari pertama berlari, menyerahkan tongkat, lalu tidak pernah memastikan apakah tongkat itu benar-benar diterima.
Seorang warga datang ke Posbindu atau Puskesmas. Tekanan darahnya tinggi. Ia diminta melakukan pemeriksaan lanjutan. Setelah itu, ia pulang. Pada bulan berikutnya, siapa yang memeriksa apakah ia datang kembali? Siapa yang memastikan hasil pemeriksaannya dibaca? Siapa yang menghubungkan skrining dengan pengobatan, kunjungan berikutnya, ketersediaan obat, dan pemantauan?
Di atas kertas, setiap tahap mungkin sudah memiliki petugas, buku pencatatan, aplikasi, dan penanggung jawab program. Tetapi bagi pasien, semua itu adalah satu perjalanan.
Pasien tidak mengalami “program skrining”, “program hipertensi”, dan “program pengobatan” sebagai tiga kegiatan terpisah. Ia hanya mengalami satu hal: apakah sistem membantunya, atau memaksanya mencari jalan sendiri.
Haggerty dan rekan-rekannya mendefinisikan kesinambungan pelayanan sebagai sejauh mana rangkaian pengalaman pelayanan yang terpisah dirasakan pasien sebagai sesuatu yang koheren, terhubung, dan konsisten dengan kebutuhan medis serta konteks hidupnya. Haggerty dkk., 2003.
Definisi ini penting karena kesinambungan tidak hanya diukur dari apakah pasien datang berulang kali. Pasien dapat datang berkali-kali, tetapi tetap mengalami pelayanan yang terputus jika setiap petugas tidak mengetahui apa yang telah terjadi sebelumnya, jika rencana pelayanan berubah tanpa penjelasan, atau jika pasien harus mengulang ceritanya dari awal. Jadi, masalahnya bukan sekadar apakah tongkat estafet berpindah. Pertanyaannya: apakah tongkat itu berpindah dengan utuh? Di sinilah kita membutuhkan siapa yang pengawas /penjaga perjalanan pasien. Penjaga perjalanan bukan selalu jabatan baru. Ia adalah fungsi yang memastikan tongkat pelayanan berpindah dengan jelas antarpetugas, antarklaster, dan antarfasilitas. Rujukan tidak berhenti sebagai surat. Informasi tidak berhenti di satu meja. Pasien tidak dianggap selesai hanya karena namanya sudah masuk daftar.
Dalam telaah 56 penelitian tentang pelayanan primer, Khatri dan rekan-rekannya menunjukkan bahwa kesinambungan pelayanan mencakup perjalanan individu, kerja sama antarprofesi, hubungan dengan masyarakat, dan koordinasi lintas unit serta sektor. [Khatri dkk., 2023]. Artinya, kesinambungan bukan hanya soal bertemu dokter yang sama. Ia adalah kemampuan sistem menjaga agar seluruh bagian pelayanan bergerak sebagai satu tim.
Dalam hal ini, Puskesmas membutuhkan logika **total football**.
Dalam total football, pemain tidak terpaku pada satu titik ketika situasi berubah. Mereka saling menutup ruang, mengambil alih peran, dan menjaga agar permainan tidak berhenti hanya karena satu pemain keluar dari posisinya. Dalam teori kesinambungan pelayanan, pengalaman pasien biasanya dibaca melalui tiga unsur: kesinambungan informasi, kesinambungan manajemen, dan kesinambungan relasi. Kesinambungan informasi berarti informasi penting tentang pasien tersedia ketika dibutuhkan. Kesinambungan manajemen berarti rencana pelayanan tetap terkoordinasi meskipun pasien berpindah petugas atau fasilitas. Kesinambungan relasi berarti pasien merasa ada pihak yang mengenal perjalanan kesehatannya dan tidak memperlakukannya sebagai kasus baru pada setiap kunjungan.
Karena itu, Puskesmas tidak cukup hanya memiliki banyak program. Program-program tersebut harus mampu bermain sebagai satu tim. Inilah makna total football dalam pelayanan kesehatan: posisi boleh berubah, tetapi orientasi terhadap perjalanan pasien tetap sama. Pelayanan terpadu membutuhkan prinsip yang sama. Jika pasien berhenti di antara skrining dan tindak lanjut, sistem harus menyadarinya. Jika pasien berpindah fasilitas, informasi harus ikut berpindah. Jika satu petugas tidak dapat melanjutkan tugas, tim harus memiliki mekanisme pengganti.
Penelitian Lee dan rekan-rekannya terhadap 39 studi menunjukkan bahwa kolaborasi antarprofesi berkaitan dengan perbaikan HbA1c serta tekanan darah pada pasien diabetes dan hipertensi. [Lee dkk., 2021]. Temuan ini tidak berarti semua kerja tim otomatis berhasil. Tetapi ia menunjukkan bahwa pengendalian penyakit kronis tidak cukup dibebankan kepada satu profesi atau satu program. Masalahnya, organisasi pelayanan sering membagi pasien sesuai kotak administrasi, kemudian berharap pasien sendiri yang menyambungkan kotak-kotak tersebut. Pasien diskrining oleh satu petugas, dicatat oleh petugas lain, dirujuk oleh pihak berikutnya, lalu diminta kembali pada waktu yang belum tentu jelas. Ketika pasien tidak kembali, sistem menyebutnya “tidak patuh”.
Padahal, bisa jadi sistemlah yang tidak cukup jelas. Karena itu, fungsi penjaga perjalanan perlu memastikan lima hal: titik tindak lanjut jelas, tanggung jawab perpindahan tersedia, pasien yang mulai terputus dikenali, informasi ikut berpindah, dan hasil pelayanan ditinjau. Kita harus membedakan pasien terdaftar, pasien terlayani, dan pasien yang memperoleh hasil pelayanan.
Ketiganya tidak sama. Seseorang bisa masuk daftar hipertensi, datang satu kali, lalu tidak pernah mencapai pengendalian. Jika evaluasi hanya menghitung pendaftaran atau kunjungan, keterputusan itu tidak akan terlihat. Bentuk awalnya tidak harus rumit. Puskesmas dapat membuat daftar sederhana: siapa yang memiliki hasil abnormal, tahap terakhir yang diterima, tahap berikutnya yang diperlukan, siapa yang bertanggung jawab, dan apa hasil tindak lanjutnya. Namun daftar itu baru berguna jika dibahas dalam rapat tim. Penjaga perjalanan bukan sekadar penginput data. Ia membawa pasien yang tertinggal kembali ke dalam keputusan pelayanan. Fungsi ini juga tidak selalu berarti menambah jabatan. Pada satu Puskesmas ia dapat melekat pada perawat. Pada Puskesmas lain, ia dapat dijalankan oleh tim lintas klaster.
Yang penting adalah fungsinya, bukan nama organisasinya.
Pelayanan tidak benar-benar terintegrasi hanya karena semua kegiatan berada dalam satu gedung. Ia terintegrasi ketika pasien dapat berpindah dari satu tahap ke tahap berikutnya tanpa kehilangan informasi, tanggung jawab, dan kesempatan untuk memperoleh hasil kesehatan yang lebih baik. Ketika pasien berhenti datang, apakah sistem menyadarinya atau justru pasien yang disalahkan karena tongkat estafetnya jatuh? Dalam perspektif ini, penjaga perjalanan pasien bukan sekadar petugas penghubung. Ia menjaga tiga hal sekaligus: informasi agar tidak hilang, rencana agar tidak terputus, dan hubungan agar pasien tidak merasa ditinggalkan. Jika salah satu dari tiga hal tersebut gagal, pasien mungkin masih tercatat dalam sistem, tetapi belum tentu mengalami pelayanan yang berkesinambungan.