Ketika Kotamu Ikut Melelahkan Tubuhmu: Kenali Allostatic Load

Essay #05 ยท firmansyarifuddin.id

Bayangkan ini sebagai rutinitas yang sangat biasa.

Seseorang bangun pukul 05.30, bergegas keluar sebelum 06.00 agar tidak terjebak puncak kemacetan. Ia duduk di balik kemudi atau berdiri berdesakan di transportasi umum selama satu hingga dua jam, dikelilingi klakson, asap knalpot, dan ketidakpastian apakah ia akan tiba tepat waktu. Di kantor, tenggat waktu menumpuk. Sore hari, ia mengulangi perjalanan yang sama, tiba di rumah malam, makan, tidur, dan bangun untuk melakukan semuanya lagi.

Data menggambarkan skala rutinitas ini. Berdasarkan TomTom Traffic Index, warga Jakarta menghabiskan 117 jam dalam kemacetan sepanjang 2023 setara hampir lima hari penuh hanya untuk duduk diam di jalan yang tidak bergerak. INRIX menempatkan Jakarta sebagai kota dengan dampak kemacetan terlama kedua di Asia. Dan itu baru kemacetan saja, belum kebisingan, polusi udara, kepadatan hunian, ketidakpastian pekerjaan, dan tekanan ekonomi yang menjadi bumbu harian kehidupan kota besar.

Pertanyaannya bukan apakah kondisi ini melelahkan. Tentu saja melelahkan. Pertanyaannya adalah: apa yang sebenarnya terjadi di dalam tubuh ketika seseorang menanggung semua ini, hari demi hari, tahun demi tahun?

Jawabannya ada dalam sebuah konsep yang sudah ada sejak 1990-an tapi nyaris tidak pernah masuk percakapan publik di Indonesia: allostatic load.

Apa Itu Allostatic Load?

Tubuh manusia dirancang untuk menghadapi stres. Ketika bahaya datang seekor predator, sebuah deadline, sebuah klakson yang tiba-tiba, sistem saraf kita mengaktifkan respons yang sangat terkoordinasi: kortisol dan adrenalin dilepaskan, detak jantung meningkat, otot menegang, fokus menajam. Ini adalah respons fight or flight sebagai mekanisme bertahan hidup yang telah ada jauh sebelum kota modern.

Yang menjadi masalah adalah bahwa respons ini dirancang untuk situasi sementara. Setelah bahaya berlalu, tubuh seharusnya kembali ke kondisi normal, tekanan darah turun, kadar kortisol melandai, sistem imun pulih. Proses kembali ke keseimbangan ini disebut allostasis.

Allostatic load adalah apa yang terjadi ketika proses ini gagal berjalan sebagaimana mestinya.

Bruce McEwen, neuroendokrinolog dari Rockefeller University yang memperkenalkan konsep ini pada 1993 bersama Eliot Stellar, mendefinisikan allostatic load sebagai “harga biologis kumulatif yang dibayar tubuh akibat paparan stres yang berulang atau kronis.” Ketika stres datang terus-menerus kemacetan setiap pagi, kebisingan yang tidak berhenti, ketidakpastian ekonomi yang menahun sistem stres tubuh tidak sempat kembali ke kondisi normal. Ia terus aktif, terus mengeluarkan hormon stres, terus mempertahankan kondisi siaga.

Dan lama-kelamaan, kondisi siaga yang terus-menerus itu merusak.

Biologi di Balik Beban yang Tak Terlihat

Yang membuat allostatic load berbahaya adalah sifatnya yang diam-diam. Tidak ada gejala tunggal yang bisa ditunjuk. Tidak ada momen dramatis di mana seseorang tiba-tiba merasakannya. Yang terjadi adalah akumulasi kerusakan mikro yang berlangsung bertahun-tahun di berbagai sistem tubuh sekaligus.

Riset menunjukkan bahwa allostatic load yang tinggi memengaruhi tubuh melalui beberapa jalur biologis yang saling terhubung.

Pada sistem kardiovaskular, tekanan darah yang terus meningkat akibat aktivasi stres kronis mempercepat kerusakan pembuluh darah. Pada sistem metabolik, kadar kortisol yang persisten tinggi mengganggu regulasi gula darah dan mendorong penumpukan lemak visceral lemak di rongga perut yang paling erat kaitannya dengan risiko diabetes dan penyakit jantung. Pada sistem imun, inflamasi kronis tingkat rendah ditandai dengan peningkatan sitokin pro-inflamasi seperti interleukin-6 dan C-reactive protein menjadi latar belakang biologis yang mempercepat penuaan sel dan meningkatkan kerentanan terhadap berbagai penyakit. Mekanisme-mekanisme ini pertama kali diuraikan secara sistematis oleh McEwen dan Stellar dalam makalah mereka di Archives of Internal Medicine (1993), dan diperkuat oleh McEwen dalam Annals of the New York Academy of Sciences (1998) yang menjadi rujukan utama konsep allostatic load hingga hari ini. Sebuah studi besar menggunakan data UK Biobank dengan lebih dari 200.000 partisipan yang diterbitkan pada 2025 menemukan bahwa allostatic load yang tinggi secara konsisten berkaitan dengan peningkatan risiko penyakit kardiovaskular, dengan jalur inflamasi sebagai mediator utamanya.

Yang penting dipahami: ini bukan tentang orang yang lemah secara psikologis atau tidak tahan banting. Ini adalah mekanisme biologis yang bekerja pada semua orang dan kota dengan tekanan tinggi menyediakan bahan bakarnya tanpa henti.

Kota sebagai Mesin Penghasil Allostatic Load

Di sinilah pertanyaan kesehatan masyarakat yang sesungguhnya muncul: apakah kota-kota kita dirancang untuk meminimalkan atau memaksimalkan allostatic load warganya?

Freudenberg, Klitzman, dan Saegert dalam Urban Health and Society (2009) menegaskan bahwa fitur unik lingkungan fisik dan sosial perkotaan dari kepadatan, kebisingan, ketidakamanan, hingga ketimpangan akses layanan adalah determinan kesehatan yang bekerja jauh sebelum seseorang masuk ke klinik. Kota bukan hanya latar belakang kehidupan; ia adalah agen aktif yang membentuk biologi warganya.

Jawabannya, untuk sebagian besar kota besar Indonesia, tidak menyenangkan untuk didengar.

Kemacetan kronis bukan sekadar pemborosan waktu. Setiap menit yang dihabiskan dalam kemacetan adalah menit di mana sistem stres tubuh diaktifkan adrenalin dipompa, tekanan darah naik, kortisol dilepaskan. Dikalikan 117 jam per tahun, dikalikan bertahun-tahun, dikalikan jutaan orang: ini adalah produksi allostatic load dalam skala industriali.

Kebisingan kota bekerja dengan cara serupa. Penelitian menunjukkan bahwa paparan kebisingan kronis, mulai kepadatan lalu lintas, pekerjaan konstruksi, pemukiman mengaktifkan respons stres bahkan ketika seseorang sedang tidur. Tubuh tidak bisa “mematikan” kepekaan terhadap suara keras; ia tetap memproses kebisingan sebagai sinyal bahaya meski pikiran sudah tidak sadar.

Polusi udara menambahkan lapisan lain. Partikel PM2.5 tidak hanya merusak paru-paru secara langsung; ia juga memicu respons inflamasi sistemik yang bertumpang tindih dengan jalur biologis allostatic load. Orang yang setiap hari terpapar polusi tinggi menanggung beban inflamasi kronis yang memperparah kondisi allostatic load mereka.

Dan di atas semua itu: ketidakpastian ekonomi, tekanan kerja, ketidakamanan perumahan, dan akses layanan yang tidak merata semuanya adalah sumber stres kronis yang terus mengisi tangki allostatic load, tanpa pernah benar-benar dikosongkan.

Mengapa Ini Penting untuk Kesehatan Masyarakat

Allostatic load menjelaskan sesuatu yang selama ini membingungkan para praktisi kesehatan: mengapa dua orang dengan perilaku hidup yang sama bisa memiliki hasil kesehatan yang sangat berbeda?

Seseorang yang tinggal di lingkungan dengan stres kronis tinggi, bising, padat, tidak aman, jauh dari fasilitas menanggung beban allostatic load yang jauh lebih besar dari seseorang dengan kondisi lingkungan yang lebih baik, meski keduanya sama-sama tidak merokok dan berusaha berolahraga. Program kesehatan yang hanya berbicara tentang pilihan individu “jangan stres,” “olahraga teratur,” “makan sehat” gagal melihat bahwa kapasitas seseorang untuk membuat pilihan-pilihan itu sangat dipengaruhi oleh seberapa besar beban allostatic yang sudah mereka tanggung.

Ini bukan hanya soal keadilan, meski keadilan jelas terlibat. Ini soal efektivitas intervensi. Program pencegahan yang tidak mempertimbangkan allostatic load lingkungan tempat seseorang hidup akan terus menghasilkan hasil yang mengecewakan bukan karena pesertanya tidak mau berubah, tapi karena sistem biologis mereka sudah terlalu lelah untuk merespons.

Donella Meadows pernah menulis bahwa untuk mengubah sistem, kita harus memahami di mana leverage point-nya. Dalam konteks allostatic load dan kesehatan urban, leverage point-nya bukan di klinik. Ia ada di desain kota, perihal berapa lama orang harus berkendara setiap hari, seberapa bising lingkungan tempat mereka tidur, seberapa aman mereka merasa berjalan kaki di lingkungan mereka.

Kota yang Baik adalah Kota yang Memberi Tubuh Kesempatan untuk Pulih

Allostatic load tidak harus menjadi takdir warga kota besar.

Kota-kota yang berhasil menurunkan beban biologis warganya tidak melakukannya dengan meminta warganya lebih tahan banting. Mereka melakukannya dengan mengubah desain lingkungan: memperpendek waktu perjalanan, mengurangi kebisingan melalui zonasi yang lebih baik, memperluas ruang hijau yang terbukti menurunkan kadar kortisol, membangun transportasi umum yang mengurangi ketidakpastian dan frustrasi harian, dan menciptakan lingkungan hunian yang memberi rasa aman dan kontrol.

Ini bukan kemewahan. Ini adalah infrastruktur kesehatan yang paling dasar, hanya saja kita belum pernah menyebutnya dengan nama itu.

Selama kita terus merancang kota untuk menggerakkan kendaraan dan menghasilkan pertumbuhan ekonomi, tanpa bertanya apa yang kota lakukan terhadap biologi tubuh warganya, kita akan terus memproduksi allostatic load dalam jumlah besar dan bertanya-tanya mengapa prevalensi penyakit tidak menular terus naik meski program kesehatan terus berjalan.

Tubuh tidak berbohong. Ia mencatat semua yang kota berikan kepadanya dan menyimpannya diam-diam, dan sampai suatu hari tagihan itu jatuh tempo, jatuh sakit.

Sumber inspirasi tulisan:

  • McEwen, B.S. & Stellar, E. (1993). Stress and the individual: mechanisms leading to disease. Archives of Internal Medicine, 153(18), 2093-2101.
  • McEwen, B.S. (1998). Stress, adaptation, and disease: allostasis and allostatic load. Annals of the New York Academy of Sciences, 840, 33-44.
  • Freudenberg, N., Klitzman, S., & Saegert, S. (Eds.). (2009). Urban Health and Society: Interdisciplinary Approaches to Research and Practice. Jossey-Bass.
  • Meadows, D. (2008). Thinking in Systems: A Primer. Chelsea Green Publishing.
  • Xie, Z., et al. (2025). Allostatic load-cardiovascular disease associations and the mediating effect of inflammatory factors: a prospective cohort study. PMC12813168.
  • TomTom Traffic Index. (2023). Jakarta Traffic Data. tomtom.com.
  • INRIX. (2023). Global Traffic Scorecard 2023. inrix.com.
  • Cannelevate. (2025). Understanding Allostatic Load and Stress Biology. cannelevate.com.au.

Leave a Comment