Lab #02 · firmansyarifuddin.id

Sekitar setahun yang lalu, saya memutuskan untuk berlangganan ChatGPT Pro. Alasannya sederhana: rasa penasaran. Saat itu saya ingin mengetahui apakah kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) benar-benar dapat membantu pekerjaan akademik sehari-hari atau hanya sekadar tren teknologi yang ramai diperbincangkan.
Awalnya, saya menggunakan AI untuk kebutuhan yang cukup umum: brainstorming ide, mencari inspirasi topik penelitian, menyusun kerangka tulisan, dan sesekali membantu merangkum dokumen. Sebagai dosen, saya melihatnya sebagai alat bantu produktivitas yang menarik. Tidak lebih dari itu.
Namun seiring berjalannya waktu, hubungan saya dengan AI berkembang jauh melampaui ekspektasi awal.
Percakapan yang semula hanya berisi pertanyaan singkat mulai berubah menjadi ruang kerja yang menyimpan berbagai proyek dan konteks pekerjaan. Saya mulai membuat ruang-ruang diskusi untuk kebutuhan yang berbeda. Ada ruang untuk membahas proposal penelitian, ruang untuk pengajaran, ruang untuk pekerjaan administrasi, ruang untuk isu kesehatan, hingga ruang diskusi santai yang kadang berisi pertanyaan filosofis, humor, atau sekadar keresahan sehari-hari.
Dari pengalaman tersebut, saya mulai memahami bahwa kekuatan AI tidak hanya terletak pada kemampuannya menjawab pertanyaan. Yang lebih menarik adalah kemampuannya mempertahankan konteks dan menjadi teman diskusi yang terus berkembang seiring intensitas penggunaan.
Dalam satu tahun terakhir, saya menggunakannya untuk banyak hal. Saat menyiapkan materi kuliah, AI membantu memetakan ide dan menyusun kerangka awal pembelajaran. Saat membimbing mahasiswa, AI sering saya gunakan untuk menguji kelayakan topik penelitian, mencari alternatif variabel, atau memetakan kemungkinan pengembangan suatu gagasan. Saat menulis artikel, AI menjadi lawan diskusi yang membantu saya melihat suatu persoalan dari sudut pandang yang berbeda.
Tentu saja hasil yang diberikan tidak selalu benar. Ada kalanya jawabannya kurang tepat, terlalu percaya diri, atau bahkan keliru. Namun justru di situlah saya belajar bahwa penggunaan AI bukan soal menerima semua jawaban yang diberikan, melainkan tentang kemampuan memverifikasi, mengoreksi, dan mempertajam hasil yang diperoleh.
Pengalaman lain yang menarik adalah ketika saya mulai memperkenalkan AI kepada mahasiswa di kelas. Sejak awal, saya tidak pernah berada pada posisi yang menolak penggunaan AI dalam dunia pendidikan. Ketika sebagian orang masih khawatir bahwa AI akan membuat mahasiswa malas berpikir, saya justru melihat perlunya mengajarkan cara menggunakan AI secara benar dan bertanggung jawab.
Bagi saya, AI adalah alat bantu belajar, bukan pengganti belajar.
Saya sering menyampaikan kepada mahasiswa bahwa tidak ada masalah menggunakan AI untuk membantu memahami materi, mencari ide penelitian, atau memperbaiki struktur tulisan. Namun jika hasil yang diberikan AI tidak dibaca, tidak dipahami, dan tidak diverifikasi, maka mahasiswa sedang menggunakan teknologi sebagai pengganti proses belajar. Dalam jangka panjang, kerugiannya akan kembali kepada dirinya sendiri.
Sederhananya, jika seseorang menggunakan AI untuk mengerjakan tugas tetapi tidak memahami apa yang sedang dikerjakan, maka ia mungkin berhasil menyelesaikan tugas lebih cepat, tetapi kehilangan kesempatan untuk berkembang. Teknologi dapat membantu menyelesaikan pekerjaan, tetapi tidak dapat menggantikan proses memahami.
Selama setahun terakhir saya juga menyaksikan perkembangan AI yang berlangsung sangat cepat. Ketika pertama kali berlangganan, sebagian besar interaksi masih berupa percakapan teks sederhana. Tidak lama kemudian muncul berbagai mode kerja seperti pencarian web, kemampuan berpikir yang lebih mendalam, riset mendalam, integrasi dengan berbagai aplikasi, hingga kemampuan menghasilkan gambar yang kualitasnya semakin mengesankan.
Perubahan tersebut membuat saya menyadari bahwa teknologi ini berkembang lebih cepat daripada kemampuan banyak orang untuk memahaminya. Setiap beberapa bulan selalu muncul fitur baru yang mengubah cara kita bekerja, belajar, dan berinteraksi dengan informasi.
Dalam periode yang sama, saya juga mencoba berbagai aplikasi AI lainnya. Ada yang unggul dalam meringkas dokumen, ada yang membantu menelusuri literatur ilmiah, ada yang kuat dalam visualisasi ide, dan ada yang menawarkan struktur penulisan yang lebih rapi. Namun dari seluruh eksplorasi tersebut, saya justru sampai pada kesimpulan yang cukup sederhana.
Kualitas hasil tidak ditentukan oleh jenis aplikasi yang digunakan, tapi lebih banyak ditentukan oleh siapa yang menggunakan aplikasi tersebut.
Pengetahuan yang dimiliki pengguna, kemampuan memberikan konteks, kualitas sumber informasi yang digunakan, serta kemauan untuk berpikir kritis ternyata jauh lebih berpengaruh dibandingkan sekadar memilih aplikasi yang dianggap paling canggih.
Karena itulah saya sering bercanda kepada teman-teman:
“AI itu tergantung jokinya.”
Semakin lama saya menggunakan AI, semakin saya percaya bahwa teknologi ini bukan pengganti manusia. Ia lebih tepat dipandang sebagai pengungkit kemampuan manusia. Bagi mereka yang gemar belajar, AI dapat mempercepat proses belajar. Bagi mereka yang gemar berpikir, AI dapat menjadi teman diskusi yang produktif. Namun bagi mereka yang hanya mencari jalan pintas, AI juga dapat menjadi alat yang mempercepat kemalasan.
Setelah setahun bersama AI, pelajaran terbesar yang saya peroleh bukanlah tentang teknologi, melainkan tentang manusia. Pada akhirnya, kualitas hasil yang kita peroleh tetap bergantung pada rasa ingin tahu, kemauan belajar, dan kemampuan berpikir yang kita bawa ke dalam percakapan.