Udara Bersih, Tubuh Diam: Bisakah Kendaraan Listrik Mendorong Kota Sehat?

Essay #04 · firmansyarifuddin.id

Ada kabar baik dari Jakarta.

Kualitas udara di kota ini, meskipun belum bisa disebut sehat, menunjukkan tanda-tanda perbaikan dibanding tahun-tahun sebelumnya. Kendaraan listrik mulai meramaikan jalan. Pemerintah memberikan insentif pajak, membebaskan EV dari ganjil genap, dan menargetkan percepatan transisi dari bahan bakar fosil. Narasi yang beredar terasa meyakinkan: kita sedang menuju kota yang lebih bersih, dan tubuh kita akan ikut sehat.

Tapi ada data lain yang jarang dibaca bersama dengan kabar baik itu.

Pada 2023, Survei Kesehatan Indonesia mencatat sebanyak 23,4 persen penduduk dewasa Indonesia mengalami obesitas, dan naik konsisten dari 14,8 persen di 2013 dan 21,8 persen di 2018. Penyakit tidak menular seperti diabetes, hipertensi, dan gangguan kardiovaskular terus meningkat. Dan salah satu faktor risikonya yang paling konsisten, kurangnya aktivitas fisik, atau dalam istilah epidemiologi: sedentary lifestyle justru sedang mendapat bahan bakar baru dari arah yang tidak kita duga.

Dari teknologi yang sama yang kita rayakan sebagai solusi.

Teknologi Tidak Netral Terhadap Kesehatan

Sebelum berbicara soal kendaraan listrik secara spesifik, ada satu prinsip yang perlu kita pegang: setiap perubahan besar dalam teknologi transportasi selalu mengubah cara tubuh manusia bergerak dan pada akhirnya, mengubah pola penyakit di masyarakat.

Ini bukan spekulasi. Ini adalah pola yang berulang dalam sejarah.

Ketika manusia beralih dari berjalan kaki ke kuda, radius mobilitas manusia meluas, tapi otot kaki mulai kurang terlatih. Ketika kuda digantikan kendaraan bermotor di abad ke-20, perubahan yang terjadi lebih dramatis: manusia yang sebelumnya berjalan ke pasar, mengayuh sepeda ke kantor, atau bergerak di antara transportasi umum, kini duduk dalam kabin pribadi dari pintu ke pintu. Epidemi penyakit jantung dan obesitas yang meledak di paruh kedua abad ke-20 tidak bisa dipisahkan dari transformasi ini.

Donella Meadows, dalam Thinking in Systems, mengingatkan bahwa sistem yang tampak tidak berhubungan sering berbagi struktur yang sama di bawah permukaannya. Apa yang terlihat sebagai revolusi transportasi adalah, pada saat yang sama, revolusi gaya hidup dan revolusi gaya hidup selalu menjadi revolusi pola penyakit.

Kendaraan listrik adalah babak berikutnya dari kisah yang sama.

Angin Baik yang Membawa Kabar Dua Sisi

Mari kita akui dulu apa yang benar: transisi ke kendaraan listrik memiliki manfaat kesehatan yang nyata dan signifikan.

Sektor transportasi menyumbang sekitar 67 persen dari total polusi udara Jakarta. Polusi dari kendaraan berbahan bakar fosil membunuh secara perlahan tapi pasti. Greenpeace Indonesia memperkirakan 7.390 penduduk Jakarta meninggal lebih awal karena polusi udara setiap tahunnya, sementara sekitar 2.000 bayi lahir dengan berat badan rendah akibat penyebab yang sama. Konsentrasi PM2.5 di Jakarta saat ini masih mencapai 9,1 kali nilai panduan kualitas udara tahunan WHO.

Dalam konteks ini, setiap kendaraan berbahan bakar yang digantikan oleh EV adalah langkah yang secara epidemiologis dapat dipertahankan. Paru-paru anak-anak yang tumbuh di kota besar layak mendapat udara yang lebih bersih. ISPA, asma, dan penyakit pernapasan kronis yang menguras anggaran BPJS lebih dari Rp 12 triliun setiap tahunnya membutuhkan jawaban struktural — dan transisi energi adalah bagian dari jawaban itu.

Tapi di sinilah kita perlu berhenti sejenak dan bertanya: apakah ini cukup sebagai kebijakan kesehatan?

Masalah yang Datang Bersamanya

Kendaraan listrik tidak berdiri sendiri. Ia adalah bagian dari ekosistem teknologi yang lebih besar dan ekosistem itu sedang mengubah cara hidup manusia secara fundamental.

Pikirkan apa yang mengikuti EV: aplikasi ride-hailing yang makin canggih, pengiriman barang berbasis AI ke pintu rumah, kendaraan yang semakin otonom sehingga pengemudi tidak lagi perlu mengendalikan apa pun, integrasi dengan ekosistem rumah pintar yang memungkinkan hampir segala kebutuhan dipenuhi tanpa bergerak dari sofa. Setiap inovasi ini rasional secara individual. Tapi secara kolektif, mereka sedang membangun infrastruktur untuk kehidupan yang semakin diam.

Ini bukan kekhawatiran yang hipotetis. Data sudah bicara. Prevalensi obesitas dewasa Indonesia naik dari 14,8 persen di 2013 menjadi 21,8 persen di 2018, dan 23,4 persen di 2023. Gaya hidup sedentari — yang dicirikan dengan rendahnya aktivitas fisik dan tingginya durasi duduk — diidentifikasi sebagai salah satu faktor risiko utama. Dan gaya hidup sedentari tidak tumbuh dari kemalasan individual; ia tumbuh dari desain lingkungan yang membuat diam lebih mudah daripada bergerak.

Kendaraan listrik, dengan segala keunggulan lingkungannya, adalah satu lagi elemen dalam desain lingkungan itu.

Seseorang yang beralih dari motor berbahan bakar ke motor listrik mungkin berkontribusi pada udara yang lebih bersih. Tapi jika perpindahan itu juga berarti ia tidak lagi berjalan ke halte bus, tidak lagi mendayung sepeda ke warung, tidak lagi memanfaatkan jeda-jeda kecil bergerak yang dulu ada dalam rutinitasnya — maka kita sedang menukar satu masalah kesehatan dengan masalah kesehatan lain yang lebih diam, lebih lambat, dan lebih sulit terlihat.

Siapa yang Merancang Ini Semua?

Di sinilah saya ingin mengajukan pertanyaan yang lebih dalam: siapa yang duduk di meja ketika kebijakan kendaraan listrik dirancang?

Jawabannya hampir pasti adalah: ekonom, insinyur, perencana energi, dan pelaku industri otomotif. Mereka memikirkan emisi karbon, efisiensi energi, neraca perdagangan, dan daya saing industri nasional. Semua itu penting. Tapi orang kesehatan masyarakat hampir tidak pernah ada di meja itu atau jika ada, suaranya tidak cukup keras untuk mengubah arah kebijakan.

Akibatnya, kebijakan EV di Indonesia dirancang sebagai kebijakan industri dan energi yang kebetulan punya implikasi kesehatan bukan sebagai kebijakan yang mempertimbangkan dampak menyeluruh terhadap tubuh dan perilaku manusia.

Barbara Starfield pernah menulis bahwa kesehatan populasi tidak bisa diselesaikan hanya dari dalam sistem kesehatan. Determinan kesehatan yang paling kuat justru berada di luar klinik dan rumah sakit di kebijakan transportasi, tata ruang kota, desain lingkungan, dan struktur ekonomi. Kebijakan EV adalah persis salah satu dari determinan itu. Dan ia sedang diputuskan tanpa lensa kesehatan yang memadai.

Yang Bisa Kita Pelajari dari Oslo dan Copenhagen

Pertanyaannya bukan apakah EV baik atau buruk. Pertanyaannya adalah: dalam sistem kota seperti apa EV bisa benar-benar mendorong kesehatan urban?

Norwegia memberikan pelajaran yang tidak banyak dikutip dalam diskusi EV di Indonesia. Negara ini berhasil menjadikan hampir delapan dari sepuluh mobil baru yang terjual sebagai kendaraan listrik, bentuk pencapaian yang luar biasa secara lingkungan. Tapi setelah transisi itu berhasil, pemerintah Norwegia menghadapi kenyataan baru: warganya tetap bergantung pada kendaraan pribadi, hanya berganti jenis bahan bakar. Udara memang lebih bersih. Tapi orang tetap duduk di balik kemudi, bukan berjalan atau bersepeda. Oslo kemudian harus mendorong lagi ke arah yang berbeda: mengurangi kendaraan pribadi secara keseluruhan dan memperluas transportasi aktif.

Copenhagen mengambil jalan yang lebih terintegrasi sejak awal. Kota ini tidak hanya mendorong EV, tapi merancang ulang seluruh sistem mobilitas kotanya. Lebih dari 90 persen penduduk Copenhagen bisa berjalan kaki ke halte transportasi terdekat. Sepeda bukan sekadar pilihan rekreasi, tapi moda transportasi utama yang difasilitasi jalur terproteksi di seluruh penjuru kota. Hasilnya bukan hanya udara yang lebih bersih, tapi juga kota yang secara konsisten masuk peringkat teratas dunia dalam indeks livability dan kesehatan populasi.

Perbedaan antara Oslo dan Copenhagen bukan soal teknologi kendaraannya, keduanya sama-sama mendorong EV. Perbedaannya ada pada pertanyaan yang mereka ajukan di awal: apakah kita hanya ingin kendaraan yang lebih bersih, atau kita ingin kota yang membuat tubuh warganya lebih sehat?

Copenhagen memilih pertanyaan kedua. Dan dari situlah urban health system yang sesungguhnya dibangun.

Sebuah studi yang mengevaluasi enam kota besar Eropa menemukan bahwa peningkatan perjalanan bersepeda hingga 35 persen dari semua perjalanan seperti yang terjadi di Copenhagen, mampu mencegah ratusan kematian setiap tahunnya. Bukan dari udara yang lebih bersih saja, tapi dari tubuh yang lebih aktif bergerak.

Dari Kebijakan EV ke Urban Health System

Inilah yang sesungguhnya perlu kita bicarakan: bukan EV sebagai objek teknologi, tapi EV sebagai salah satu komponen dalam sistem kesehatan urban yang lebih besar.

Urban health system adalah cara kota dirancang sehingga pilihan sehat menjadi pilihan yang mudah, bukan pilihan yang membutuhkan tekad ekstra. Ia mencakup bagaimana jalan dirancang, di mana trotoar dibangun, seberapa aman jalur sepeda, seberapa dekat fasilitas publik dari tempat tinggal, dan apakah desain kota mendorong orang untuk bergerak atau mendorong mereka untuk duduk diam.

Kendaraan listrik bisa menjadi bagian dari urban health system yang baik, jika ia hadir bersama infrastruktur pejalan kaki yang manusiawi, jalur sepeda yang terproteksi, transportasi umum yang terintegrasi, dan tata ruang yang tidak memaksa setiap perjalanan menggunakan kendaraan pribadi. Tapi jika EV hadir sendiri, tanpa komponen-komponen itu, ia hanya mengganti sumber emisi tanpa mengubah struktur yang membuat tubuh manusia semakin pasif.

Di sinilah peran kesehatan masyarakat yang sesungguhnya: bukan menolak teknologi, tapi memastikan bahwa setiap kebijakan teknologi dievaluasi dengan pertanyaan yang benar. Bukan hanya “apakah ini mengurangi emisi?” tapi “apakah ini membuat warga kita lebih sehat secara menyeluruh?”

Kota Sehat Bukan Kota dengan Udara Bersih Saja

Maka, bisakah kendaraan listrik mendorong kota sehat?

Jawabannya: bisa, tapi tidak sendirian.

EV yang berdiri sendiri hanya menyelesaikan satu lapisan dari masalah kesehatan perkotaan yang berlapis-lapis. Ia perlu hadir dalam ekosistem yang lebih besar: kota yang dirancang untuk bergerak, bukan hanya berkendara. Kota yang memberi ruang bagi tubuh untuk aktif, bukan hanya memberi ruang bagi kendaraan untuk melaju.

Tugas kesehatan masyarakat dalam era transisi energi ini bukan sekadar mencatat risiko atau merayakan manfaat. Tugasnya adalah mendorong agar pertanyaan tentang kesehatan urban masuk ke dalam setiap ruang perencanaan bersama para insinyur, perencana kota, dan pembuat kebijakan energi sebelum keputusan dibuat, bukan sesudahnya.

Karena udara yang bersih adalah syarat perlu untuk kota yang sehat. Tapi ia belum pernah, dan tidak akan pernah, menjadi syarat cukup.

Tulisan ini dibaca dan dipikirkan dari:

  • Meadows, D. (2008). Thinking in Systems: A Primer. Chelsea Green Publishing.
  • Starfield, B. (1998). Primary Care: Balancing Health Needs, Services, and Technology. Oxford University Press.
  • Morris, J.N., et al. (1953). Coronary heart-disease and physical activity of work. The Lancet, 265(6796), 1053-1057.
  • Mueller, N., et al. (2015). Health impacts of active transportation in Europe. PLOS ONE. doi:10.1371/journal.pone.0121407.
  • Kementerian Kesehatan RI. (2023). Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023. Jakarta: Kemenkes RI.
  • UGM One Health Center of Excellence. (2024). Polusi Jakarta Peringkat 1 di Dunia, Bagaimana Dampaknya pada Kesehatan? ohce.wg.ugm.ac.id.
  • Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta & World Resources Institute Indonesia. (2023). Pemetaan Sumber Polusi Udara Jakarta. Program USAID Clean Air Catalyst.
  • Greenpeace Indonesia. (2023). Dampak Polusi Udara terhadap Kesehatan Warga Jakarta.
  • City of Copenhagen. (2018). Copenhagen City of Cyclists: Bicycle Account 2018. Teknik og Miljøforvaltningen.
  • Clean Cities Campaign. (2023). Cities Ranking: Shared and Zero-Emission Mobility. cleancities.eu.

Leave a Comment