Claude AI: Catatan Bulan Pertama

Lab #06 ยท firmansyarifuddin.id

Saya terlambat mencoba Claude.

Ketika banyak orang mulai membandingkannya dengan ChatGPT beberapa waktu lalu, saya masih cukup nyaman menggunakan alat yang sudah menjadi bagian dari rutinitas kerja sehari-hari. Akibatnya, rasa penasaran terhadap Claude selalu kalah oleh daftar pekerjaan yang harus diselesaikan.

Namun beberapa minggu terakhir saya akhirnya memutuskan untuk mencobanya.

Belum lama. Belum cukup untuk memberikan penilaian yang final.

Karena itu tulisan ini bukan ulasan mendalam, melainkan catatan awal dari seorang pengguna baru yang sedang mencoba memahami mengapa banyak orang begitu antusias terhadap Claude.

Hal pertama yang saya pelajari adalah bahwa menggunakan AI ternyata memiliki tingkatan yang berbeda-beda.

Pada level dasar, hampir semua aplikasi AI terlihat mirip.

Kita bertanya.

AI menjawab.

Kita meminta ringkasan.

AI membuat ringkasan.

Kita meminta bantuan menulis.

AI membantu menulis.

Jika penggunaan kita hanya berada pada level tersebut, perbedaan antar aplikasi sering kali tidak terlalu terasa.

Namun semakin jauh saya membaca dokumentasi dan mencoba berbagai fiturnya, semakin saya menyadari bahwa banyak pengguna sebenarnya menggunakan AI pada level yang berbeda.

Ada pengguna yang memanfaatkan AI hanya sebagai mesin pencari yang lebih pintar.

Ada yang menjadikannya asisten menulis.

Ada yang menggunakannya sebagai partner belajar.

Ada pula yang menjadikannya bagian dari sistem kerja yang jauh lebih kompleks.

Di sinilah saya mulai memahami mengapa sebagian pengguna terlihat sangat fanatik terhadap aplikasi tertentu.

Mungkin mereka bukan sedang membandingkan aplikasi yang sama.

Mereka sedang berada pada level penggunaan yang berbeda.

Dari eksplorasi awal, saya melihat setidaknya ada tiga tingkat penggunaan AI.

Tingkat pertama adalah penggunaan dasar.

Pada level ini AI berfungsi sebagai asisten percakapan. Ia membantu menjawab pertanyaan, merangkum dokumen, menerjemahkan teks, membuat draf tulisan, atau menjelaskan konsep yang belum dipahami.

Saya menduga sebagian besar pengguna AI berada pada tahap ini.

Dan tidak ada yang salah dengan itu.

Bahkan pada level dasar sekalipun, manfaat yang diperoleh sudah cukup besar.

Tingkat kedua adalah penggunaan menengah.

Pada tahap ini AI mulai berubah dari sekadar chatbot menjadi ruang kerja.

Pengguna tidak lagi hanya mengajukan pertanyaan sesekali, tetapi mulai membangun proyek yang berkelanjutan. Dokumen diunggah, konteks dikumpulkan, instruksi khusus diberikan, dan percakapan berlangsung dalam jangka waktu yang lebih panjang.

Saya mulai melihat fitur-fitur seperti Projects, Artifacts, Memory, pengelolaan dokumen, dan kemampuan memahami konteks dalam jumlah besar sebagai bagian dari perubahan tersebut.

AI tidak lagi sekadar menjawab pertanyaan.

AI mulai menjadi bagian dari alur kerja.

Sebagai dosen dan peneliti, level ini terasa menarik karena cukup dekat dengan kebutuhan sehari-hari. Banyak pekerjaan akademik sebenarnya bukan pekerjaan satu kali selesai, melainkan rangkaian aktivitas yang berlangsung selama berminggu-minggu atau bahkan berbulan-bulan.

Tingkat ketiga adalah penggunaan tingkat lanjut.

Di wilayah ini saya masih menjadi penonton.

Saya membaca tentang penggunaan API, integrasi dengan berbagai aplikasi lain, agen otomatis, analisis data yang lebih kompleks, hingga sistem kerja yang memungkinkan AI menjalankan serangkaian tugas secara relatif mandiri.

Sebagian orang bahkan menjadikan AI sebagai bagian dari infrastruktur kerja mereka.

Bukan lagi sekadar alat bantu.

Melainkan komponen yang terintegrasi dengan berbagai sistem lainnya.

Jujur saja, saya belum berada pada tahap tersebut.

Namun melihat berbagai kemungkinan yang tersedia membuat saya menyadari bahwa dunia AI ternyata jauh lebih luas daripada yang saya bayangkan saat pertama kali berlangganan ChatGPT setahun yang lalu.

Dari semua hal yang saya pelajari selama mencoba Claude, mungkin pelajaran yang paling menarik justru bukan tentang Claude itu sendiri.

Pelajaran tersebut adalah bahwa kemampuan sebuah AI tidak selalu ditentukan oleh model yang digunakan.

Sering kali manfaat yang diperoleh pengguna lebih dipengaruhi oleh seberapa dalam mereka memahami cara memanfaatkan teknologi tersebut.

Dua orang dapat menggunakan aplikasi yang sama.

Satu orang hanya memanfaatkannya untuk menjawab pertanyaan sederhana.

Orang lain menggunakannya untuk membangun sistem kerja yang terintegrasi.

Hasil yang mereka peroleh tentu akan berbeda.

Karena itu saya mulai melihat bahwa perkembangan AI bukan hanya soal model terbaru, fitur terbaru, atau perusahaan mana yang paling unggul.

Perkembangan AI juga tentang bagaimana manusia belajar menggunakan alat-alat tersebut secara lebih efektif.

Apakah Claude akan menjadi alat utama saya di masa depan?

Saya belum tahu.

Masih terlalu dini untuk menyimpulkannya.

Namun satu hal yang pasti, beberapa minggu menggunakan Claude membuat saya kembali menyadari bahwa saya masih berada di awal perjalanan.

Dan mungkin itu justru bagian yang paling menarik dari semua perkembangan AI yang sedang terjadi saat ini.

Leave a Comment