Lab #05 ยท firmansyarifuddin.id

Dunia AI bergerak sangat cepat.
Hampir setiap minggu ada aplikasi baru yang mengklaim lebih pintar, lebih cepat, lebih murah, atau memiliki fitur yang lebih lengkap dibandingkan para pendahulunya. Media sosial juga tidak pernah sepi dari perbandingan antar aplikasi. Hari ini orang membicarakan satu aplikasi, beberapa bulan kemudian perhatian berpindah ke aplikasi yang lain.
Saya termasuk orang yang cukup senang mencoba hal-hal baru.
Dalam setahun terakhir, saya mencoba berbagai aplikasi AI untuk kebutuhan yang berbeda-beda. Ada yang saya gunakan untuk mencari literatur ilmiah, ada yang membantu membaca dokumen panjang, ada yang kuat untuk menulis, ada yang menarik untuk membuat visualisasi, dan ada pula yang menawarkan fitur-fitur yang sebelumnya tidak pernah saya bayangkan.
Sebagian aplikasi tersebut memang mengesankan.
Beberapa bahkan memiliki kemampuan yang lebih baik dibandingkan ChatGPT dalam tugas-tugas tertentu.
Namun setelah mencoba berbagai alternatif, saya menyadari satu pola yang cukup menarik.
Pada akhirnya, saya hampir selalu kembali menggunakan ChatGPT sebagai alat utama.
Bukan karena ChatGPT selalu yang terbaik dalam segala hal.
Bukan pula karena aplikasi lain tidak memiliki kelebihan.
Alasannya justru lebih sederhana.
ChatGPT adalah aplikasi yang paling mudah saya masukkan ke dalam alur kerja sehari-hari.
Dalam pekerjaan akademik, saya jarang membutuhkan jawaban untuk satu pertanyaan saja. Sebuah ide penelitian dapat berkembang menjadi diskusi metodologi. Diskusi metodologi berubah menjadi rancangan proposal. Proposal berkembang menjadi instrumen penelitian. Setelah itu muncul kebutuhan untuk menganalisis data, menyiapkan bahan ajar, menulis artikel, atau menyusun presentasi.
Semua proses tersebut saling terhubung.
Yang saya butuhkan bukan sekadar aplikasi yang pintar menjawab pertanyaan, melainkan aplikasi yang mampu menemani perjalanan sebuah proyek dari awal hingga akhir.
Di sinilah saya merasakan manfaat terbesar dari ChatGPT.
Semakin lama digunakan, aplikasi ini mulai memahami pola kerja saya, topik-topik yang sering saya diskusikan, serta proyek-proyek yang sedang saya kerjakan. Saya tidak perlu menjelaskan ulang semuanya setiap kali memulai percakapan baru.
Bagi sebagian orang, hal tersebut mungkin terdengar sepele.
Namun dalam praktiknya, kemampuan mempertahankan konteks dapat menghemat banyak waktu.
Saya sering membayangkan situasi ini seperti bekerja dengan rekan yang sudah cukup lama mengenal cara kerja kita. Ketika berdiskusi, kita tidak perlu selalu memulai dari nol. Sebagian konteks sudah dipahami sehingga percakapan dapat langsung masuk ke inti persoalan.
Ada satu perubahan kecil yang baru saya sadari beberapa bulan terakhir.
Dahulu, hampir setiap kali memiliki pertanyaan, saya langsung membuka Google. Mulai dari mencari referensi penelitian, memahami konsep baru, membandingkan produk, mencari lokasi tertentu, hingga sekadar menjawab rasa penasaran sehari-hari.
Saya akan mengetik kata kunci, membuka banyak tab, membaca satu per satu, lalu mencoba menyusun sendiri potongan-potongan informasi yang saya temukan.
Sekarang kebiasaan itu perlahan berubah.
Dalam banyak situasi, halaman pertama yang saya buka justru ChatGPT.
Bukan karena semua jawaban tersedia di sana, dan bukan pula karena saya berhenti menggunakan mesin pencari. Saya tetap menggunakan Google, jurnal ilmiah, laporan resmi, dan berbagai sumber lainnya. Namun ChatGPT sering menjadi tempat pertama untuk memetakan masalah, merumuskan pertanyaan, menguji ide, atau memahami gambaran besar sebuah topik sebelum saya melangkah lebih jauh.
Perubahan tersebut membuat saya menyadari bahwa yang berubah bukan hanya teknologinya, tetapi juga cara saya berinteraksi dengan informasi.
Jika dahulu saya memulai dari pencarian, sekarang saya sering memulai dari percakapan.
Dan saya menduga saya bukan satu-satunya orang yang mengalami perubahan tersebut.
Pengalaman tersebut membuat saya memahami bahwa produktivitas tidak selalu ditentukan oleh kecanggihan fitur.
Sering kali produktivitas justru ditentukan oleh seberapa kecil hambatan untuk mulai bekerja.
Jika sebuah aplikasi terlalu rumit, membutuhkan terlalu banyak pengaturan, atau mengharuskan saya berpindah-pindah platform secara terus-menerus, maka sebagian energi saya habis untuk mengelola alat tersebut.
Padahal tujuan utama saya bukan mempelajari aplikasi.
Tujuan saya adalah menyelesaikan pekerjaan.
Pelajaran ini mengingatkan saya pada berbagai perangkat yang kita gunakan dalam kehidupan sehari-hari. Tidak selalu alat yang paling canggih yang paling sering digunakan. Dalam banyak kasus, justru alat yang paling nyaman dan paling mudah diakses yang akhirnya menjadi pilihan utama.
Hal yang sama saya rasakan dalam penggunaan AI.
Saya tetap mencoba aplikasi baru.
Saya tetap mengikuti perkembangan teknologi.
Saya tetap tertarik melihat berbagai inovasi yang muncul.
Namun saya tidak lagi merasa harus berpindah aplikasi setiap kali muncul tren baru.
Semakin lama saya menggunakan AI, semakin saya menghargai konsistensi dibandingkan sensasi kebaruan.
Pengalaman ini juga mengubah cara saya memandang produktivitas.
Di awal perjalanan menggunakan AI, saya sering berpikir bahwa produktivitas akan meningkat jika saya menemukan aplikasi terbaik.
Sekarang saya justru lebih percaya bahwa produktivitas meningkat ketika saya mampu membangun kebiasaan kerja yang konsisten menggunakan alat yang tersedia.
Perbedaannya mungkin terdengar kecil, tetapi dampaknya cukup besar.
Mencari aplikasi terbaik membuat perhatian kita selalu tertuju pada apa yang belum dimiliki.
Sebaliknya, membangun kebiasaan kerja yang baik membuat perhatian kita tertuju pada apa yang bisa dikerjakan hari ini.
Saya juga mulai menyadari bahwa nilai terbesar sebuah aplikasi bukan hanya pada kecerdasannya, tetapi pada kemampuannya menjadi bagian dari rutinitas sehari-hari.
Sama seperti kita memiliki meja kerja favorit, buku catatan favorit, atau aplikasi yang paling sering digunakan, saya mulai melihat ChatGPT sebagai bagian dari ruang kerja digital yang saya gunakan hampir setiap hari.
Kadang untuk pekerjaan yang serius.
Kadang untuk mengembangkan ide penelitian.
Kadang untuk menyusun bahan ajar.
Kadang untuk mengecek logika sebuah argumen.
Kadang bahkan hanya untuk menguji sebuah pemikiran yang sedang muncul di kepala.
Karena itu saya tidak terlalu tertarik pada perdebatan mengenai AI mana yang akan menjadi pemenang di masa depan.
Mungkin beberapa tahun lagi akan muncul aplikasi yang lebih pintar daripada ChatGPT.
Mungkin juga akan lahir teknologi yang benar-benar mengubah cara kita bekerja.
Namun satu hal yang saya pelajari dari setahun terakhir adalah bahwa manfaat terbesar dari AI tidak datang dari aplikasi yang paling baru.
Manfaat terbesar datang ketika sebuah alat berhasil menjadi bagian dari rutinitas kerja sehari-hari.
Dan hingga saat ini, itulah alasan mengapa saya selalu kembali ke ChatGPT.
Bukan karena ia selalu yang terbaik.
Tetapi karena ia adalah alat yang paling sering membantu saya berpikir, belajar, menulis, mengajar, dan menyelesaikan pekerjaan.
Pada akhirnya, produktivitas tidak ditentukan oleh berapa banyak aplikasi yang kita miliki.
Produktivitas lebih sering ditentukan oleh seberapa konsisten kita menggunakan alat yang sudah ada di tangan.