MBG Bukan soal Rasanya, Tapi Manfaatnya

Essay #02 ยท firmansyarifuddin.id

Ada yang menarik dari cara masyarakat Indonesia merespons program Makan Bergizi Gratis.

Bukan tentang apakah program ini baik atau buruk, berhasil atau gagal. Yang menarik adalah apa yang diperdebatkan dan apa yang tidak.

Yang diperdebatkan: rasanya tidak enak. Menunya membosankan. Makanannya banyak yang tersisa. Lebih baik diganti uang tunai saja agar keluarga bisa memilih makanan sendiri.

Yang tidak diperdebatkan: apakah anak-anak Indonesia hari ini sesungguhnya makan dengan baik. Apakah pola makan mereka mendukung tumbuh kembang yang optimal. Apakah kebiasaan makan yang mereka bangun hari ini akan membentuk kesehatan mereka dua puluh tahun ke depan.

Kesenjangan antara apa yang diperdebatkan dan apa yang tidak adalah tanda dari sesuatu yang lebih besar dari sekadar kontroversi program.

Apa yang Sebenarnya Sedang Terjadi di Piring Anak-Anak Kita

Sebelum membahas MBG, kita perlu jujur tentang satu hal: pola makan anak-anak Indonesia hari ini tidak baik-baik saja.

Data menunjukkan bahwa konsumsi sayuran dan buah pada anak usia sekolah jauh di bawah rekomendasi. Asupan protein hewani tidak merata, sangat bergantung pada kondisi ekonomi keluarga. Yang tumbuh pesat justru konsumsi makanan ultraproses: mi instan, minuman manis, camilan tinggi gula dan garam, makanan cepat saji yang murah dan mudah dijangkau di kantin sekolah maupun warung di sekitar rumah.

Ini bukan penilaian moral terhadap pilihan keluarga. Ini adalah gambaran ekosistem pangan yang ada: makanan tidak sehat lebih murah, lebih mudah didapat, lebih menarik secara rasa, dan lebih cocok dengan ritme kehidupan keluarga yang sibuk. Dalam ekosistem seperti itu, pilihan sehat adalah pilihan yang membutuhkan usaha ekstra, dan usaha ekstra adalah kemewahan yang tidak semua keluarga bisa konsisten melakukannya.

Dalam konteks inilah MBG perlu dibaca. Bukan sebagai program makan siang biasa, tapi sebagai intervensi terhadap ekosistem pangan yang sudah lama tidak berpihak pada kesehatan anak.

Mengapa Perdebatan tentang Rasa Melewatkan Poin yang Lebih Penting

Ketika seseorang berkata “MBG tidak enak, lebih baik diganti uang tunai,” ada logika yang masuk akal di baliknya. Orang tua tahu selera anaknya. Mereka bisa memilih makanan yang akan benar-benar dimakan. Tidak ada makanan yang terbuang. Lebih efisien.

Logika ini benar dalam satu kerangka: kerangka kepuasan konsumen.

Tapi dalam kerangka kesehatan populasi, logika itu melewatkan sesuatu yang mendasar.

Jika uang tunai diberikan kepada keluarga, keputusan pembelian makanan akan mengikuti pola yang sudah ada. Dan pola yang sudah ada, seperti yang kita lihat dari data, tidak menghasilkan gizi yang optimal bagi anak-anak. Bukan karena orang tuanya tidak mau memberikan yang terbaik, tapi karena ekosistem pangan yang ada mendorong pilihan ke arah yang salah.

MBG, dalam desain idealnya, bukan hanya tentang memberi makan. Ia tentang memastikan bahwa setidaknya satu kali dalam sehari, setiap anak mendapat asupan yang memenuhi standar gizi yang dibutuhkan untuk tumbuh kembangnya, terlepas dari kondisi ekonomi keluarga, terlepas dari ekosistem pangan di sekitar rumahnya, dan terlepas dari selera yang sudah terbentuk oleh kebiasaan makan yang tidak sehat.

Ini bukan soal memaksakan rasa. Ini soal memutus satu rantai dalam siklus gizi buruk yang sudah berjalan terlalu lama.

Masalah Selera adalah Masalah Sistem, Bukan Masalah Program

Di sinilah argumen yang lebih dalam perlu diajukan.

Ketika anak-anak menolak sayuran dalam menu MBG, ketika mereka memilih membuang lauk bergizi dan hanya memakan nasinya, ketika mereka lebih memilih jajan di kantin dengan uang saku daripada memakan bekal bergizi yang disiapkan, itu bukan semata-mata masalah program yang tidak menarik.

Itu adalah cermin dari keberhasilan ekosistem pangan yang tidak sehat dalam membentuk selera sejak usia sangat dini.

Industri makanan ultraproses sudah sangat pandai merancang produknya untuk mengoptimalkan daya tarik sensoris: lebih gurih, lebih manis, lebih renyah, dengan kombinasi rasa yang dirancang secara ilmiah untuk membuat orang ingin terus mengonsumsinya. Anak-anak yang tumbuh dengan makanan seperti ini mengembangkan referensi rasa yang membuat makanan bergizi terasa hambar dan tidak menarik.

Jadi ketika anak mengatakan “MBG tidak enak,” ia tidak salah. Dari perspektif selera yang sudah terbentuk, mungkin memang begitu rasanya. Tapi pertanyaannya bukan apakah makanan bergizi terasa enak dibanding makanan ultraproses. Pertanyaannya adalah selera seperti apa yang ingin kita bantu anak-anak kita kembangkan, dan ekosistem seperti apa yang perlu kita ciptakan untuk mendukung itu.

MBG sendirian tidak akan mengubah selera. Tapi ia bisa menjadi satu titik intervensi yang konsisten dalam ekosistem yang lebih luas, asalkan kita memahaminya bukan sebagai program makan siang yang harus menyenangkan semua orang, melainkan sebagai investasi gizi jangka panjang yang hasilnya tidak akan terlihat dalam satu semester.

Yang Sedang Dipertaruhkan Bukan Soal Enak atau Tidak

Gizi pada usia sekolah bukan soal kenyang. Ia adalah fondasi dari kapasitas kognitif, kemampuan belajar, ketahanan imun, dan kesehatan jangka panjang yang akan menentukan produktivitas seseorang di usia dewasa.

Anak yang kekurangan protein pada usia sekolah mengalami hambatan dalam perkembangan otak yang dampaknya tidak bisa sepenuhnya dipulihkan kemudian. Anak yang terbiasa dengan pola makan tinggi gula sejak kecil membangun risiko diabetes yang akan muncul dua puluh tahun kemudian. Anak yang tidak terbiasa makan sayuran dan buah tidak hanya kekurangan vitamin dan serat hari ini, tapi juga tidak membangun kebiasaan yang akan melindungi kesehatannya di usia dewasa.

Semua ini tidak terasa mendesak karena dampaknya tidak segera terlihat. Anak yang makan tidak bergizi hari ini tidak langsung jatuh sakit hari ini. Ia mungkin terlihat baik-baik saja. Tapi sistem kesehatannya sedang dibangun, atau gagal dibangun, diam-diam, hari demi hari.

Inilah yang dimaksud dengan investasi kesehatan jangka panjang. Dan inilah mengapa perdebatan tentang rasa, meski sah sebagai ekspresi preferensi, melewatkan pertanyaan yang jauh lebih penting: apa yang sedang kita bangun untuk anak-anak ini, dan apakah kita cukup sabar untuk menunggu hasilnya?

Negara yang Berpihak Tidak Selalu Populer

Ada satu hal lagi yang perlu dikatakan secara jujur.

Program yang benar-benar berpihak pada kepentingan jangka panjang masyarakat tidak selalu populer dalam jangka pendek. Cukai rokok yang tinggi tidak populer di kalangan perokok. Regulasi kandungan gula dalam minuman tidak populer di kalangan konsumen yang sudah terbiasa dengan rasa manis. Kewajiban imunisasi tidak selalu diterima dengan antusias oleh semua orang tua.

Tapi efektivitasnya dalam memproduksi kesehatan populasi sudah terbukti.

MBG menghadapi dinamika yang sama. Ia tidak dirancang untuk memaksimalkan kepuasan segera. Ia dirancang, atau seharusnya dirancang, untuk memaksimalkan dampak kesehatan jangka panjang pada generasi yang sedang tumbuh. Dan dampak itu tidak akan terlihat dalam survei kepuasan bulan pertama, atau bahkan tahun pertama.

Masyarakat yang hanya menilai program dari apakah ia menyenangkan hari ini melewatkan pertanyaan yang lebih penting: apakah ia membangun sesuatu yang akan dirasakan manfaatnya dua puluh tahun dari sekarang?

Itu bukan pertanyaan tentang rasa. Itu pertanyaan tentang cara kita memandang tanggung jawab negara terhadap kesehatan generasi yang belum bisa memilih untuk dirinya sendiri.

Tulisan ini adalah bagian dari seri membaca program Makan Bergizi Gratis dari sudut pandang sistem kesehatan. Bagian pertama membahas MBG sebagai bukti bahwa produsen kesehatan terbesar justru berada di luar sektor kesehatan.

Leave a Comment